“Kita dapat simpulkan secara nasional andil inflasi dari daging ayam cukup rendah” ujar Fini.
Fini melanjutkan memang ada beberapa daerah memiliki kontribusi untuk komoditas daging ayam yang menyebabkan peningkatan inflasi, namun hal tersebut terjadi karena ada peningkatan permintaan masyarakat terhadap daging ayam. Tradisi menu makanan masyarakat Indonesia untuk jamuan ketika lebaran yang tidak dapat terlepas dari komoditas daging ayam, ditambah pula dengan tradisi mudik di Indonesia yang diperkirakan dapat berkorelasi positif terhadap lonjakan permintaan daging ayam di beberapa daerah. Daerah dengan pemudiknya cukup besar mendorong peningkatan konsumsi terhadap bahan pangan sehingga mendongkrak harga dan pengaruhi inflasi.
Hal ini terjadi provinsi Sumatera Selatan terutama Kota Lubuk Linggau yang merupakan kota transit menuju provinsi di Wilayah Sumatera dengan inflasi mencapai 0.88%, begitupun di Provinsi Jawa Timur peran daging ayam untuk inflasi sekitar 0.29% karena permintaan meningkat serta adanya budaya ruwahan.
Lanjut Fini menjelaskan jika dilihat dari sisi peternak sebagai produsen dinilai memiliki kemampuan daya beli cukup baik yang ditunjukan dengan perolehan NTP (Nilai Tukar Petani) sub sektor peternakan pada bulan Mei 2019 sebesar 107,73 dan mengalami kenaikan 0.83% dibandingkan bulan April sebesar 106,84. Peningkatkan NTP menunjukkan peningkatan daya saing komoditas peternakan terhadap produk dan jasa yang dikonsumsi petani.
Perolehan nilai tukar petani di atas angka 100 mengindikasikan peternak mampu membiayai seluruh pengeluaran rumah tangga dan usaha taninya yang berarti petani/peternak mengalami kelebihan atau surplus, harga produksi hasil taninya naik lebih besar dari kenaikan harga konsumsinya.






