Lebih lanjut, Hermansyah mengatakan kalau orang yang punya impian tidak seperti itu. Dia akan mencari warung tenda yang menyediakan penjual pecel sampai ketemu. “Jadi, tidak hanya sekedar mencari satu warung tenda yang sedia pecel lele, lalu mau makan yang lain,” ujarnya.
Maka dari itu, kata Hermasyah, untuk meraih impian harus melalui langkah-langkah, diantaranya pertama meyakini bahwa manusia punya banyak potensi yang terpendam. Kedua, menuliskan sampai 100 impian. Pasalnya, menurut survey hanya 10 persen yang tujuan jelas, tetapi tidak berani menuliskannya. Ketiga, impian yang dituliskan harus detail dan keempat membangun impian dengan mengunjungi atau survey. Misalnya, impiannya memiliki rumah mewah, berkunjung ke rumah mewah yang dijual atau gelleri marketing developer perumahan mewah.

Materi yang ditunggu-tunggu para peserta workshop adalah prospekting. Pasalnya, menjadi sales atau marketing tidak seperti anggapan orang pada umumnya, misalnya sales harus pandai bicara. Tetapi justru menjadi sales harus lebih banyak mendengar, ketimbang menjelaskan produk knowlegde. “Presentasenya, 75 persen mendengar dan 25 menerangkan produknya,” tutur Hermansyah. Tidak kalah pentignya, sales itu saat menjual produk dengan lebih banyak bercerita orang yang sudah menggunakan produknya.
(*)






