Porosnusantara.co.id|
Jakarta — Persatuan dan pelestarian budaya Betawi menjadi fokus utama dalam kegiatan Halal Bihalal Silaturahmi Kebangsaan dan Rapat Kerja (Raker) III Dewan Adat Bamus Betawi yang digelar pada Sabtu (10/5). Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antarpegiat budaya sekaligus menegaskan pentingnya menjaga marwah budaya Betawi di tengah perkembangan zaman.
Ketua Umum Gerakan Sadar Budaya, Raden Panca Nur, menegaskan bahwa budaya Betawi harus tetap menjadi ruang kebersamaan yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terpengaruh kepentingan politik praktis.
Menurutnya, budaya memiliki peran penting sebagai perekat sosial masyarakat Jakarta yang dikenal majemuk dan penuh keberagaman. Karena itu, seluruh unsur masyarakat Betawi, mulai dari tokoh adat, pelaku budaya, hingga generasi muda, diajak untuk bersama-sama menjaga nilai luhur budaya agar tetap hidup dan berkembang.
“Budaya Betawi harus menjadi ruang yang inklusif dan dapat dinikmati semua kalangan. Jangan sampai budaya kehilangan esensinya karena dibawa ke kepentingan tertentu,” ujar Raden Panca Nur dalam sambutannya.
Ia menilai, tantangan pelestarian budaya saat ini tidak hanya soal mempertahankan tradisi, tetapi juga bagaimana membangun ekosistem budaya yang sehat, adaptif, dan mampu mengikuti perkembangan Jakarta sebagai kota metropolitan.
Selain itu, Raden Panca Nur menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam meneruskan nilai-nilai budaya Betawi agar tidak tergerus arus modernisasi. Ia berharap lahir lebih banyak tokoh dan pemimpin budaya yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian adat dan budaya Betawi.
“Budaya Betawi harus terus dijaga sebagai identitas masyarakat Jakarta yang menjunjung kebersamaan, keterbukaan, dan nilai luhur warisan leluhur,” katanya.






