Berkompetisi Dalam Demokrasi

Gede Pasek Suardika

 

Jakarta-PorosNusantara.co.id

Dalam Kompetisi Demokrasi
Positive Campaign dan Negative Campaign adalah hal biasa untuk menguji rekam jejak, menakar logika dan akal sehat atas apa yang ditawarkan dan tentu juga menajamkan Visi misi dan program yang ditawarkan. Yang harus dijauhi adalah Black Campaign karena itu menyerang personal dan mengarah ke pidana fitnah dan lainnya.

Kompetisi demokrasi bukan soal bicara menang kalah tetapi mana yang bisa lebih meyakinkan. Dan meyakinkan yang paling baik adalah, ketika menentukan setelah mengetahui apa yang akan dilakukan dan bagaimana melakukan itu nanti. Bukan apa yang diberikan secara pragmatis saat ini. Sebab memilih pemimpin untuk masa depan bukan untuk pragmatisme masa kini.

Kompetisi demokrasi bukan soal menang kalah, tetapi soal bagaimana partisipasi rakyat dalam menentukan pilihan bisa dengan bebas dan riang gembira dan jauh dari ancaman dan intimidasi.

Kompetisi demokrasi bukan soal menang kalah, tetapi bagaimana merawat daya analisa dan kritis rakyat atas kandidat yang ada.

Politisi yang benar adalah dia akan selalu berjuang maksimal di pilihan yang diyakini. Bukan yang bermain di dua kaki atau tiga kaki hanya untuk menjaga keselamatan karirnya sendiri. Politisi harus hadir mencerahkan dengan argumentasi masing masing. Bukan tidur di kolong dan kemudian hanya hadir untuk yel yel semata.

Ibarat pertandingan sepakbola, penonton dan suporter bola akan datang dengan riang gembira mendukung karena pemainnya memang main sungguh sungguh di masa waktu bertanding dan sportif ketika semua sudah berakhir. Bukan bermain sepakbola karena distir penjudi bola ataupun alasan yang membuat pertandingan menjadi tidak fair.

Pesta demokrasi itu bukan perang hidup mati, tetapi untuk adu ide dan gagasan. Karena adu ide dan gagasan maka kompetisi demokrasi akan menarik dilihat ketika adu ide dan gagasan berjalan sehat. Namun di negara yang literasinya rendah dan hanya modalnya “pokoknya” maka demokrasi bisa menjadi ancaman kesejahteraan rakyat. Sebab pemilih tidak berpikir rasional tetapi emosional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *