Dalam beberapa tahun terakhir, Indro memilih berkurban kambing karena dinilai lebih fleksibel untuk disebarkan ke berbagai wilayah. Dengan demikian, manfaat kurban tidak terpusat di satu lokasi saja.
“Kalau kambing, saya bisa sebar ke beberapa tempat, tidak menumpuk di satu titik saja,” ujarnya.
Untuk Idul Adha tahun ini, ia memperkirakan akan menyiapkan sekitar tiga hingga empat ekor kambing. Ia juga mulai melibatkan anak-anaknya dalam proses tersebut sebagai bagian dari pendidikan nilai berbagi dalam keluarga.
Lebih jauh, Indro memaknai kurban sebagai bentuk rasa syukur sekaligus refleksi manusia sebagai makhluk sosial. Ia menilai, kesempatan berbagi harus dimanfaatkan selama masih memiliki kemampuan.
“Kita hidup sebagai manusia sosial. Kalau bisa berbagi, kenapa tidak?” tuturnya.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya kepedulian terhadap isu kemanusiaan global, khususnya di Palestina. Menurutnya, bantuan kepada wilayah konflik bukan semata persoalan agama, melainkan nilai kemanusiaan universal.
“Berbicara Palestina itu berbicara manusia. Banyak anak kehilangan orang tua, banyak yang terluka, dan mereka kekurangan. Itu harus jadi perhatian kita semua,” kata Indro.
Ia berharap distribusi kurban dapat terus diperluas, termasuk ke wilayah-wilayah terdampak krisis, sehingga manfaatnya dirasakan lebih luas, baik di tingkat nasional maupun global.
Wartawan: Dwi






