Porosnusantara.co.id | Washington, 5 April 2026 — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu ketegangan global setelah pada Minggu, 5 April 2026 mengancam Iran melalui media sosial. Trump menuntut Teheran membuka Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan minyak dunia, atau menghadapi serangan besar terhadap infrastruktur penting negara itu. Ancaman tersebut disampaikan dengan bahasa kasar dan sumpah serapah yang mengejutkan dunia internasional.
Dalam unggahannya, Trump menetapkan deadline 48 jam, memperingatkan akan menghancurkan pembangkit listrik, jembatan, dan fasilitas vital lain jika tuntutannya tidak dipenuhi. “Iran akan hidup dalam neraka jika menolak,” tulis Trump dalam unggahan yang langsung menjadi viral.
Ancaman ini memicu reaksi keras dari politisi AS, termasuk Senator Tim Kaine dari Virginia. Kaine mengecam perilaku Trump sebagai “kekanak‑kanakan” dan berbahaya. Menurut Kaine, retorika yang emosional dan ekstrem seperti ini tidak hanya mengancam keselamatan tentara Amerika yang berada di lapangan, tetapi juga dapat memperburuk konflik internasional.
“Perilaku presiden dengan ancaman destruktif, bahasa kasar, dan ultimatum yang tidak realistis ini sangat kekanak‑kanakan,” kata Kaine. “Ini bukan hanya soal politik—ini bisa menyebabkan konsekuensi nyata bagi nyawa tentara dan ketegangan global.”
Kritik Kaine menegaskan bahwa pendekatan Trump lebih mengedepankan konfrontasi daripada diplomasi, yang bisa membawa AS dan kawasan Teluk menuju konflik yang lebih luas.
Penutupan Selat Hormuz dan ultimatum AS menyebabkan harga minyak dunia melonjak, menimbulkan kekhawatiran ekonomi global. Pemerintah Iran menolak tuntutan Trump dan memperingatkan bahwa langkah agresif AS dapat memicu eskalasi militer yang lebih besar di kawasan Teluk.






