Porosnusantara.co.id | Aceh – Beberapa hari terakhir, media sosial kembali diramaikan oleh pernyataan yang menyudutkan rakyat Aceh. Narasi itu berbunyi sinis dan menyakitkan:
“Saat lapar minta bantuan, saat kenyang minta merdeka.” Pernyataan ini bukan sekadar keliru, tetapi juga menunjukkan betapa dangkalnya pemahaman sejarah dan realitas sosial Aceh hari ini.
Secara pribadi, saya menilai siapa pun yang melontarkan pernyataan tersebut adalah mereka yang tidak pernah membuka lembaran sejarah Aceh, tidak pernah membaca dengan sungguh-sungguh, dan lebih gemar berteriak daripada berpikir.
Aceh bukan wilayah yang lahir dari belas kasihan negara, melainkan bagian dari republik ini yang dibangun dengan darah, keringat, dan pengorbanan panjang.
Bukalah sejarah Aceh. Jauh sebelum republik ini berdiri, Aceh telah menjadi sebuah kerajaan besar dan berdaulat, dengan kekuatan politik, ekonomi, dan militer yang disegani.
Dalam masa penjajahan, Aceh adalah salah satu daerah yang paling keras dan paling lama melawan kolonialisme Belanda. Perang Aceh bukan cerita singkat, melainkan catatan panjang tentang harga mahal yang harus dibayar sebuah bangsa untuk mempertahankan martabatnya.
Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Aceh tidak berdiri di pinggir sejarah. Aceh menjadi salah satu daerah yang menopang republik ini di masa-masa paling kritis. Dari logistik, perlindungan wilayah, hingga dukungan politik, Aceh hadir bukan sebagai penonton, melainkan sebagai pelaku sejarah.

Kami tidak ingin beretorika. Fakta di lapangan hari ini berbicara jauh lebih jujur daripada komentar di media sosial. Saat bencana datang, rakyat Aceh bangkit dengan tangan mereka sendiri. Kami membersihkan rumah kami sendiri, menata kampung kami sendiri, dan menguatkan sesama kami sendiri. Bantuan memang ada, dan kami tidak menafikkan itu. Namun turunlah ke lapangan, lihat dengan mata kepala sendiri, jangan hanya hidup dari “katanya”.







