Rp200 Triliun Bukan Obat, Hanya Plester Politik Ekonomi

Purbaya seolah masih mengimani dogma klasik supply creates its own demand. Padahal, teori itu rontok di hadapan kenyataan. Menambah likuiditas tak serta-merta mencetak permintaan baru. Dunia usaha hanya berani berhutang jika penjualan prospektif. Sementara itu, rakyat sudah dicekik oleh inflasi pangan, ongkos hidup, dan ketidakpastian kerja.

Alih-alih menggerakkan ekonomi rakyat, kebijakan ini rawan memperdalam jurang: bank makin gemuk, negara menanggung ongkos, rakyat tetap lapar.

Kebijakan Purbaya layak ditelanjangi,ini bukan solusi struktural, melainkan kosmetik ekonomi yang penuh risiko. Yang dibutuhkan rakyat bukan Rp200 triliun parkir di bank, tapi jaminan daya beli, pekerjaan layak, dan keberanian negara melawan oligarki ekonomi.

Reporter: AXS.

Penulis: AXSEditor: AXS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *