Kenapa “anjing” dan bukan hewan lain? Karena anjing adalah simbol universal tentang kesetiaan, pengabdian, namun seringkali juga direndahkan dan disiksa. Prabowo ingin menyentuh emosi audiens global, membangkitkan rasa empati terhadap penderitaan bangsa-bangsa yang pernah dijajah.
Namun, pidato ini bukan sekadar nostalgia masa lalu. Prabowo menghubungkannya dengan isu Palestina, menyiratkan bahwa penindasan dan ketidakadilan masih terjadi di berbagai belahan dunia. Ia menyerukan solidaritas global untuk melawan segala bentuk dehumanisasi dan penindasan.
Tentu saja, ada risiko dalam menggunakan kata “anjing” di forum internasional. Sebagian orang mungkin menganggapnya tidak pantas atau vulgar. Namun, Prabowo tampaknya sengaja mengambil risiko ini untuk menarik perhatian dan menyampaikan pesannya dengan lebih kuat.
Kita bisa berdebat tentang efektivitas strategi komunikasi Prabowo. Namun, satu hal yang pasti, ia berhasil membuat dunia terdiam, berpikir, dan bereaksi. Ia menggunakan kata “anjing” bukan sebagai hinaan, melainkan sebagai metafora yang kuat untuk menggambarkan penderitaan, ketidakadilan, dan harapan akan solidaritas.
Jadi, mari kita beri apresiasi kepada Prabowo Subianto. Bukan hanya karena keberaniannya, tetapi juga karena kemampuannya menggunakan bahasa sebagai alat untuk menggugah kesadaran global. Dan sambil merenungkan pidatonya, jangan lupa menikmati “Wedang Rempah Produk Jangkar Pena Group” yang akan menghangatkan tubuh dan jiwa Anda.
Hari itu, “anjing” resmi masuk ke dalam leksikon diplomasi PBB. Sebuah gonggongan retorika yang mengguncang dunia, dan mungkin, juga membuka mata kita terhadap realitas yang lebih pahit.
Oleh IRF Wapemred Jangkar Pena Group, yang juga pengamat dan Penggiat Kebijakan Publik






