PorosNusantara.co.id – Blitar || Upacara adat budaya yang dimaknai ucapan syukur dan memanjatkan doa agar mendapat lindungan dari Tuhan YME dilaksanakan oleh para budayawan Blitar Raya di lingkungan situs Desa Selokajang yang merupakan petilasan Begawan Manguni pada Sabtu lalu dengan tujuan merawat tradisi dan melestarikan adat budaya serta sebagai edukasi kepada masyarakat terhadap lingkungan utamanya menjaga Kali Brantas tetap lestari karena telah memberikan sumber penghidupan.
Ritual adat budaya ini juga ditujukan untuk memadukan tradisi, adat dan budaya yang nantinya bisa dikemas menjadi objek pemajuan kebudayaan sesuai Undang – Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan seperti dijelaskan oleh Ketua Dewan Seni dan Budaya Kabupaten Blitar, Dian Prio Gunanto atau biasa disapa Mas Brew dalam sambutan pembuka menyampaikan bahwa ” Sungai Brantas sebagai sungai terpanjang kedua yang yang mengalir disepanjang seperempat wilayah di Provinsi Jawa Timur yang bermuara di Laut Jawa merupakan penopang kehidupan bagi daerah – daerah yang subur di sepanjang alirannya, dan sejak masa lalu sudah menjadi pusat dan cikal bakal peradaban makmur kerajaan – kerajaan di Jawa Timur. Kerajaan – kerajaan tersebut mewariskan beragam cagar budaya dan objek pemajuan kebudayaan seperti yang telah ditemukan situs di Desa Selokajang ini, dan sampai sekarang masih menjadi bagian kehidupan masyarakat disekitar aliran sungai; ” katanya.
” Ritual merawat air dan sungai sebagai wujud syukur kepada Tuhan dan Larung Sesaji di Kali Brantas juga penghormatan kepada leluhur agar selalu tercipta ketenangan kepada masyarakat yang mengais rejeki dan menggantungkan kehidupan seperti para penambang pasir, pengusaha perahu dan petani pencari ikan dan pedagang makanan dan minuman yang bekerja dan berusaha disekitar kali nanti bisa selamat dan mendapatkan rejeki yang melimpah ruah serta mendoakan kepada orang – orang yang mengalami kecelakaan yang istilahnya sukmo nglemboro juga akan dirituali Pitra Puja akan sukmo – sukmo nya bisa sempurna kembali ke asalnya,” jelas Ki Yoso.






