oleh

“KRISTOFORUS HAKI” MEMBUKTIKAN CIBIRAN MASYARAKAT

KUPANG, POROS NUSANTARA – PEPATAH mengatakan, ‘anjing menggonggong, kafila terus berlalu” sangat pas dilekatkan pada sosok pemilik nama lengkap, Kristoforus Haki atau disapa Kristo. Perjuangannya untuk meraih kesuksesan hingga menempatkan dirinya di kursi legislatif Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) saat ini, mendapat tantangan yang cukup berat. Dengan berbekalkan pengalaman lapangan, ketekunan dalam berdoa, keraguan dari keluarga dan warga sekitarnya, terjawabi. Prinsipnya, apa yang tidak mungkin kini menjadi kenyataan. Dan yang paling membanggakan buat Kristo, dari seluruh anggota Dewan TTU, dirinya merupakan anggota termuda dari Partai Gerindra.

kristo1Kristo yang lahir di Maubesi, 26 Agustus 1984 ini, ketika ditemui Poros.Nusantara di sela-sela mengikuti kegiatan penguatan DPRD TTU di Kupang belum lama ini menceritrakan pengalamannya sebelum dan sesudah menjadi anggota legislatif saat ini. Dia menceritrakan, awalnya termotivasi menjadi anggota Dewan, sejak masih kuliah di Universitas Nusa Cendana Kupang pada Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM). Pria yang pernah mengenyam pendidikan di Bangku Seminari selama mengikuti kuliah, dirinya sudah terlibat di berbagai organisasi. Organisasi yang menempa dirinya untuk mengenal dunia politik adalah di GMNI Cabang Kupang. Bermodalkan pengalaman di organisasi, suami dari Yantri Januarti ini tertarik untuk terjun ke dunia politik dengan masuk ke Partai Gerindra. Ketertarikannya masuk pada Partai Gerindra  karena merasa partai ini sangat nasionalis apalagi ada tokoh yang selama ini diidolakannya yakni Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto dan Ketua Komisi V DPR RI dari Partai Gerindra, Ir. Farry Francis.

“Saya sangat mengenal sosok Pak Farry Francis. Sebelum terjun ke dunia politik dan menempatkannya menjadi Ketua Komisi V DPR RI, pak Farry sebelumnya berlatar belakang pekerjaan pada lembaga sosial masyarakat (LSM). Banyak hal yang saya timbah dari sosok ini. Setiap kali Pak Farry turun saat reses, maka saya selalu ikut dan banyak belajar bagaimana mendekatkan diri pada masyarakat,” tutur Kristo.

BACA JUGA  Miris SD NEGERI Bengkulu Rejo Sudah Seperti Tidak Di Pergunakan Lagi

kristo3Dia melanjutkan, setelah dirinya menyelesaikan materi di bangku kuliah tetapi belum menyusun skripsi, dia sudah terlibat di pekerjaan terutama program penyediaan air bersih di NTT khususnya masyarakat di Kabupaten Lembata. Selama setahun menekuni program ini, dirinya hijrah pekerjaan dengan masuk pada LSM Plan Internasional di TTU. Selanjutnya, dia melepas seluruh kegiatan dan fokus pada perjuangan untuk bisa duduk di kursi legislatif.

“Awal terjun ke politik, tidak semudah yang dibayangkan. Banyak masyarakat mencibir saya dan meragukan kemampuan saya.  Bahkan keluarga sendiri meragukan saya untuk bisa terpilih. Tapi dengan  berbekalkan  semangat serta komunikasi yang dibangun secara terus menerus serta menyakinkan masyarakat apabila terpilih nanti tidak akan mengecewakan. Tetap saja  masih ada suara miring yg mengatakan masuk keluar kampung hanya bermodalkan motor, dan nanti jadi anggota dewan apa yang dia  buat. Tapi semua tidak melunturkan semangat saya, untuk bisa membuktikan bahwa apa yang dikatakan masyarakat itu tidak benar,” kenang Kristo soal pahit getirnya meraih kesuksesan menjadi anggota legislatif ini.
Menurutnya, semangat pantang menyerah tidak pernah luntur. Hari demi hari, doa terus didaraskan kepada Tuhan untuk mendapatkan berkat dan petunjuk agar ada jalan keluar. Bagai gayung bersambut, Tuhan mendengar doa tulusnya dan secara kebetulan dia bertemu

Fary  Francis dan menyampaikan secara terbuka bahwa dirinya ingin maju menjadi anggota DPRD Kabupaten TTU lewat Partai Gerindra. Dukungan moril dari Farry Francis membuatnya semakin percaya diri dengan terus bekerja keras, masuk kampung keluar kampung dan alhasil, pada pemilu legislatif beberapa waktu lalu, dirinya dipercayakan masyarakat untuk duduk di kursi DPRD TTU dari daerah pemilihan (Dapil) III,wilayah Kecamatan Insana.

BACA JUGA  Ratusan Desainer Ramalkan Jakarta Fashion Week 2020, Tonton Fashion Show Dengan Mudah Melalui Aplikasi

kristo2Tentang bagaimana realita yang dihadapinya ketika berada di gedung terhormat DPRD TTU, Kristo berkisah bahwa ketika terjun ke politik praktis, ternyata jauh berbeda dengan  ketika masih menjadi mahasiswa maupun di organisasi. Di dunia politik tidak bisa diterjemahkan secara lurus. Di lembaga bergengsi ini, dituntut bagaimana komunikasi itu dibangun antar fraksi untuk menggolkan kepentingan rakyat.  Berkat komunikasi yang baik dengan pengurus partai bukan hanya  di kabupaten maupun provinsi tapi juga di tingkat pusat, Kebutuhan masyarakat dapat terjawabi.

“Jadi perjuangan yang selama ini saya lakukan adalah bagaimana soal pembangunan embung, bronjong dan puji Tuhan  sudah bisa terealisasi. Juga pembangunan sumur bor dengan tenaga surya, karena memang di daerah pemilihan saya  masyarakat kekurangan air bersih. Bukan hanya infrastruktur saja yang menjadi tanggung jawab saya tetapi juga berusaha untuk bisa menyalurkan bakat orang muda terutama di bidang olah raga sepak bola. Saya beberapa waktu lalu membawa tim dari TTU ke Atambua untuk dilakukan seleksi timnas dari pelatih Bali United,” ujar anggota Komisi A ini.

Tentang perjuangan selanjutnya, Kristo mengatakan, saat ini ada agenda khusus yang tengah dibangun dengan menjalin komunikasi lewat Kementrian Perhubungan untuk menambah armada bus dengan rute, TTU-Atambua, Timor Leste dan sudah terjawab 6 unit Damri. Menurutnya masih banyak hal yang harus dibuatnya, walaupun dirinya mengakui sosoknya bukan pahlawan, tapi bagaimana dia mau perjuangkan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat.
“Saya hampir tiap hari apabila tidak ada sidang di kantor, selalu turun ke masyarakat dengan tujuan untuk bisa berkomunikasi dan mendengarkan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Jadi bukan hanya pada waktu reses saja kita turun. Saya tinggal di kampung di tengah-tengah masyarakat dengan jarak ke kantor sekitar 17 kilometer. Jadi saya lebih suka datang ke kampung-kampung mau selibat dengan mereka,” katanya.
Tentang nasib kaum perempuan di TTU, ayah dari Giovanny Alexander Fio Haki ini mengatakan, dirinya juga mendukung keterlibatan perempuan di segala bidang maupun di segala program. Dia mencontohkan, keterampilan untuk membuat tenun ikat. Di dapilnya, di Insana, banyak tenun ikat Insana yang dibuat karena sudah sangat terkenal. Ada beberapa kelompok yang sudah terbentuk dan mendukung mereka dengan pengadaan benang. Setelah jadi hasil tenun kain, dirinya membantu untuk mempromosikan keluar daerah seperti di Jakarta jika ada tugas kedinasan.

BACA JUGA  Kementerian ATR/BPN Siap Berantas Mafia Tanah Penghambat Perekonomian Indonesia

Dirinya juga berencana untuk membentuk satu wadah untuk menampung semua hasil tenun dari penenun di TTU, sehingga ketika orang melintasi wilayah TTU ke Atambua atau ke Timor Leste bisa tahu bahwa ada tenun ikat yang dipajang di Insana. Harapannya tentu pemerintah juga ikut mendorong kreatifitas kaum perempuan di TTU, dengan membangun satu balai latihan untuk bisa mengolah bahan lokal kemudian tenun, sehingga kaum perempuan tidak termotivasi untuk ke luar negeri sebagai tenaga kerja wanita (TKW). Dana desa yang ada juga bisa digunakan untuk pemberdayaan perempuan, sehingga kaum perempuan betah di kampung halamannya sendiri dan dapat mendukung ekonomi keluarganya.

(Oleh : Erni Amperawati)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkini