Dukungan terhadap wacana penguatan kepemimpinan di Kementerian Komunikasi dan Digital turut disampaikan oleh Ketua Umum Persatuan Wartawan Islam (PEWARIS), Lucky Indrawan. Ia menyatakan pentingnya menghadirkan figur berlatar teknologi tinggi yang memiliki integritas nasional dan komitmen terhadap kebebasan pers.
“PEWARIS memandang bahwa era digital bukan hanya menuntut kecakapan teknis, tetapi juga keberanian menjaga nilai-nilai demokrasi, kebebasan pers, dan keamanan informasi. Figur seperti Arfian memiliki kapasitas untuk menjembatani kepentingan negara, media, dan rakyat dalam satu napas kedaulatan digital,” ujar Lucky dalam pernyataan resminya.
Menurut PEWARIS, transformasi digital tanpa fondasi etika dan keamanan justru berpotensi melahirkan kerentanan baru. Oleh karena itu, kehadiran pemimpin yang memahami cyber defense, cyber intelligence, dan cyber governance dinilai krusial agar ruang digital Indonesia tidak menjadi ladang eksploitasi, melainkan ruang publik yang aman dan berdaulat.
Lebih dari sekadar teknokrat, Arfian dikenal sebagai sosok yang memandang teknologi sebagai alat pengabdian. Dalam berbagai forum, ia kerap menegaskan bahwa data merupakan aset strategis bangsa, dan keamanan siber adalah bagian dari tanggung jawab konstitusional untuk melindungi rakyat di era tanpa batas.
Di balik pendekatan strategisnya, Arfian juga dikenal memiliki pandangan etik dan moral dalam memaknai kekuasaan dan teknologi. Ia menekankan bahwa kebijakan digital tidak hanya bertumpu pada logika algoritma, tetapi juga pada tanggung jawab moral terhadap generasi mendatang.
Meski dukungan dari berbagai elemen masyarakat sipil mulai menguat, keputusan reshuffle kabinet sepenuhnya berada di tangan Presiden Republik Indonesia. Publik kini menanti langkah strategis yang tidak hanya merespons dinamika politik, tetapi juga menjawab tantangan besar Indonesia di tengah perang informasi global.






