oleh

RITUAL “LARUNG SENGKALA”: TANDA DUKUNGAN EKSISTENSI DENSUS 88

RITUAL “LARUNG SENGKALA”: TANDA DUKUNGAN EKSISTENSI DENSUS 88

Yogyakarta, porosnusantara.co.id
Terorisme lahir dari batin manusia yang kosong dan gelisah, juga dari keangkuhan yang merugikan orang lain. Oleh PBB, terorisme dipandang sebagai musuh bersama dunia.

Banyak negara mengalami serangan teror oleh sekelompok orang yang ingin memaksakan kehendaknya dengan menghalalkan segala cara, baik melalui kekerasan maupun dengan menghilangkan nyawa sesama secara paksa. Oleh sebab itu dunia menetapkan terorisme sebagai suatu kejahatan luar biasa (extra ordinary crime).

Indonesia punya pengalaman buruk dengan terorisme. Masih teringat segar dalam ingatan kita pada peristiwa bom Bali, ledakan bom di Hotel JW Mariot, Jakarta, peristiwa Sarina, Jakarta Pusat, atau sekian bom bunuh diri di sejumlah tempat. Kerja keras dan cepat Densus 88 terbukti efektif.

Eksistensi dan kerja Densus 88 selama ini dinilai positif bagi kehidupan bangsa dan negara. Namun kenapa ada pihak yang ingin membubarkan mereka?

Masyarakat Pencinta NKRI, yang terdiri dari pelbagai elemen dalam masyarakat Yogyakarta menyatakan dukung pada Densus 88. Dukungan kepada Densus 88 datang dari kelompok lintas agama cinta NKRI.

Mereka melakukan ritual Larung Sengkala, pada Kamis (14/10/2021) yang diawali dengan doa bersama di Tugu Golong Giling Yogyakarta sebagai simbol persatuan rakyat. Dari Tugu Golong Giling, warga berjalan menuju Jembatan Gondolayu dan melarungkan Sengkala, simbol kemungkaran atau kejahatan. Mereka berharap, segala kemungkaran dijauhkan dari kehidupan masyarakat Indonesia, dan tak ada pihak yang menghalangi kebaikan dan kedamaian hidup ini.

Kelompok lintas agama cinta NKRI ini menyayangkan, akhir akhir ini ada pihak yang menyerang Densus 88 dan menginginkan lembaga “pengejar teroris” ini dibubarkan. Suara miring ini sudah lama terdengar, namun masyarakat banyak menampik logika itu. Mereka yakin Densus 88 telah memberi kontribusi amat penting bagi rasa aman masyarakat Indonesia.

Para teroris mengusung ideologi yang tak sejalan dengan ideologi Pancasila. Mereka ingin mendirikan negara agama dan menolak demokrasi. Dalam iklim demokrasi, tak ada tempat bagi terorisme.

“Kita hidup di era demokrasi. Mengkritik negara itu wajar. Namun keinginan untuk membubarkan Densus 88, patut dilawan. Pendapat itu justru memperlemah upaya negara memberantas jaringan terorisme di Indonesia,” tutur Ki Demang Wangsafyudin.

Ki Demang Wangsafyudin mengingatkan, warga Yogyakarta agar tetap waspada terhadap teroris. Menurutnya, masyarakat bisa segera melaporkan kepada aparat bila melihat ada gejala yang mencurigakan dari warga atau pendatang di lingkungannya. Biasanya para teroris itu bersikap santun sehingga sulit dicurigai dan diketahui aparat.

Sementara Naryo Asmaradana, pekerja seni dan budaya tradisi, yang ikut dalam kegiatan Larung Sengkala, mengatakan, kegiatan kultural itu dimaksudkan untuk membuang segala kejahatan, termasuk terorisme. Namun, tambah Nano, bila Densus 88 dibubarkan, justru akan mendatangkan “sengkala” atau kemurkaan bagi bangsa Indonesia.

Bersama-sama teman-teman yang peduli pada NKRI, Nano melakukan gerakan “Save Densus 88” di Yogyakarta. Mereka melarungkan simbol kejahatan dan berdoa kepada Tuhan untuk keselamatan dan persatuan Indonesia. Mereka juga berdoa agar para politisi lebih jernih berpikir dan tidak ikut merusak kesadaran masyarakat.


( Rika / PN 02 )

BACA JUGA  Pemilu Serentak 2019 akan Di Evaluasi Pemerintah, DPR serta Pihak Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkini