oleh

Gunabhadra Mahasthavira (Ketua Umum SMI Himbau Agar Umat Tidak Perlu Resah dan Bergejolak

Porosnusantara.co.id – Jakarta, (02/10/2021) – Pasca safari melayangkan Surat Keberatan atas tindakan Dirjen Bimas Buddha Kementerian Agama pada 30 September 2021 yang lalu, Jimmu Gunabhadra Mahasthavira selaku Ketua Umum Sangha Mahayana Indonesia yang sah dan memiliki Ijin AHU dan Pemilik Hak Merek SMI menegaskan bahwa dirinya tidak ingin Umat Mahayana resah atas urusan ini.

Banyak umat Mahayana baik di Jakarta, Banten, Sumsel , Jawa Timur, Jawa Tengah, Kepri, Kalimantan, Sumut dan wilayah lainnya yang mengkonfirmasi adanya hal yang menimbulkan kegaduhan di kalangan Umat Mahayana, lantaran kebijakan Dirjen yang plintat plintut.

Minggu, (03/10/2021) berlokasi di Kediaman Jimmu Gunabhadra, redaksi mewawancarai khusus dalam rangka konfirmasi adanya beberapa Tokoh Umat Buddha yang bersiap untuk bergerak melakukan pembelaan atas adanya pendzaliman oleh Dirjen Bimas Buddha terhadap SMI Pimpinan Gunabhadra.

BACA JUGA  Majalah Model Indonesia "Grand Final Cover Boy-Cover Girl & Cover Kidz 2021 YAPMI - TMII Bekerja Sama Dengan Anjungan Riau

Secara khusus Gunabhadra yang tengah melakukan daring studi doktoralnya menyempatkan waktu untuk memberikan pernyataan bahwa secara Pribadi, dirinya menuntut agar aspek legalitas yang sudah di milikinya sejak tahun 2014 yang lalu, agar di hormati oleh pihak Dirjen Bimas Buddha.

Pak Caliadi, jangan sewenang-wenang melakukan tindakan penerbitan produk hukum yang mengabaikan aturan yang sudah dibuatnya sendiri.

Seperti diketahui publik, asal muasal Jimmu Gunabhadra melakukan protes keras terpicu oleh adanya Surat Pengaktifan kembali terhadap Tanda Daftar Kelembagaan Buddha dengan nama Sangha Mahayana Indonesia yang menuliskan Ketua Kusalasasana Mahasthavira (Ng Aik Soon) tertanggal 24 September 2021 yang lalu.

Padahal, sebelumnya sudah di keluarkan Surat Pencabutan atas Tanda Daftar dimaksud, karena telah terbukti Tidak Berbadan Hukum, dan menggunakab Nama yang sudah menjadi Hak paten dari Jimmu Gunabhadra.
Lembaga dan Nama SANGHA MAHAYANA INDONESIA, merupakan organisasi yang menaungi Umat Mahayana Indonesia secara utuh dan tercatat sebagai Hak Merek milik Jimmu Gunabhadra Mahasthavira.
Sehingga dengan diterbitkannya Tanda Daftar Kelembagaan Buddha oleh Dirjen Bimas Buddha, menimbulkan kegaduhan dikalangan Para Bhiksu Aliran Mahayana, yang berimbas pada Umat ditengah masyarakat.

BACA JUGA  Kementan Persiapkan Ekspor Perdana Buah Naga ke China

Kusalasasana (Ng Aik Soon), adalah bagian dari para Bhiksu Mahayana yang dahulu menimbulkan keresahan umat karena rombongan mereka yang hadir merestui munculnya “Buddha-Bar” di daerah Menteng, dan sekarang berubah menjadi Batavia Kunstring.
Para Bhiksu yang pada waktu itu hadir, di lokasi Bar dengan memakai nama Buddha itu merupakan Para Bhiksu Mahayana yang sangat meresahkan Umat Buddha pada masa itu dan menimbulkan gejolak demonstrasi dari Umat Buddha Indonesia.

Kejadian saat ini, Dirjen Bimas Buddha memicu dan menyalakan api amarah umat dengan semena-mena menganggap bahwa SMI Gunabhadra dapat berdiam diri diperlakukan seperti organisasi taman kanak kanak.
Bahwa Jimmu Gunabhadra, sudah memberikan ucapan terima kasih atas dicabutnya SMI pimpinan Kusalasasana. Namun kemudian diterbitkan Surat Pengaktifan kembali… Nah ..ini yang saya sebut, Dirjen Plintat Plintut. Dan menurut saya, sudah sepantasnya Dia turun dari jabatannya karena terbukti tidak mampu mengambil kebijakan secara obyektif dan berlandaskan kepastian hukum yang baik. Tutur Gunabhadra

BACA JUGA  Presiden Argentina Menerima Mentan, ekspor buah tembus Argentina

Jimmu Gunabhadra menambahkan, bahwa dengan memmegang teguh prinsip kerukunan umat, keutuhan dan keselarasan kehidupan Mahayana Indonesia, maka dengan penuh kesejukan dan kedamaian, dirinya menghimbau kepada Umat untuk tetap tenang dan memberikan ruang kepada Menteri Agama untuk mengambil tindakan punishment serta memberikan kebijakan terbaik berdasar aturan hukum yang berlaku di Indonesia, pungkasnya. (Red/JS)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkini