oleh

Aktivitas Gunung Merapi Tanggal 27 Januari 2021, Kepala Badan Geologi: Terjadi 52 Awanpanas Guguran

Porosnusantara.co.id – Yogyakarta (28/1) Gunung Merapi merupakan gunungapi aktif yang terletak di DIY dan Jawa Tengah. Peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Merapi mulai terjadi sejak Oktober 2020 sehingga BPPTKG-PVMBG-Badan Geologi meningkatkan statusnya menjadi Siaga pada tanggal 5 November 2020.

Dalam keterangan video yang diunggah di media sosial BPPTKG, Kepala Badan Geologi, Eko Budi Lelono menyampaikan bahwa “Pada tanggal 4 Januari 2021, Gunung Merapi akhirnya mengalami erupsi yaitu erupsi efusif yang ditandai dengan munculnya api diam di sekitar Lava 1997”.

Eko menyebut bahwa tipe erupsi Gunung Merapi merupakan tipe yang istimewa, sehingga diabadikan menjadi salah satu tipe erupsi gunung api. Aktivitas tipe erupsi Merapi berupa pertumbuhan kubah lava yang disertai dengan guguran lava dan awanpanas guguran. “Tahun 2021 ini tampaknya Gunung Merapi kembali ke tipe aslinya,” ungkap Eko.

Menurut catatan BPPTKG, awanpanas pertama di Gunung Merapi terjadi pada tanggal 7 Januari 2021. “Hingga saat ini tercatat 95 awanpanas guguran dengan jarak luncur maksimal 3 km dari puncak Gunung Merapi”. ujar Eko. Namun Eko menyampaikan bahwa jarak luncur awanpanas ini masih dalam jarak rekomendasi yang ditetapkan oleh BPPTKG-PVMBG-Badan Geologi.

Eko mengungkapkan bahwa pada hari Rabu (27/1) Gunung Merapi mengeluarkan rentetan awanpanas guguran. “Rabu 27 Januari 2021 terjadi 52 awanpanas guguran di Gunung Merapi dengan jarak luncur maksimal 3 km dari puncak”. Eko mengabarkan bahwa hujan abu sempat terjadi di beberapa tempat, namun menurutnya hal tersebut wajar karena material halus hasil erupsi dapat terbawa oleh angin.

Paska kejadian awanpanas beruntun tersebut, aktivitas Gunung Merapi masih didominasi oleh awanpanas guguran dan guguran lava. Data kegempaan masih menunjukkan aktivitas guguran, sedangkan data deformasi dari metode EDM terhitung masih cukup landai.

Eko mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai bencana hidrometeorologi akibat curah hujan yang masih terjadi di Indonesia, terutama di sungai-sungai yang berhulu di Merapi yang bisa terjadi lahar akibat dipicu oleh curah hujan di puncak.

Terkait aktivitas Merapi yang masih tinggi, Eko mengungkapkan komitmennya dalam mitigasi bahaya Gunung Merapi yaitu melalui PVMBG-BPPTKG yang terus melakukan kegiatan pemantauan, penilaian bahaya, penyebaran informasi, dan sosialisasi aktivitas Gunung Merapi terkini. “Masyarakat diimbau untuk menjauhi daerah bahaya serta selalu mengikuti informasi aktivitas terkini dan rekomendasi dari BPPTKG, pemerintah daerah, dan BPBD setempat”. pungkasnya.

Axnes*

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkini