oleh

Jaksa penuntut umum 6 bulan deni pebri prayuda setelah 1 setengah tahun menungggu di dakwa.

Karawang, porosnusantara Kamis 13 Agustus 2020 – Digelar sidang pebacaan tuntutan jaksa penuntut umum dengan nomor perkara 312/pid.B/2020/PN Karawang, hakim ketua Diah R,S.H. (sarjana hukum), hakim anggota Winata S.H. (sarjana hukum), Aswin,S.H. (sarjana hukum) panitera pengganti Risna,S.H.(sarjana hukum) dan jaksa penuntut umum Agung Firmansyah , S.H. rusmin sebagai korban dan Deni pebri prayuda terlapor, Dwi muriani kharisma sebagai saksi terdakwa, Agus sebagai saksi pertama dan saudara Yanto sebagai saksi 2 dari pihak korban.

3 juni 2019 korban melapor ke polres Karawang , dengan nomor laporan polisi STTL/Vl/2019/JABAR/RES/KRW diterima oleh penyidik Jatanras, pengrusakan satu unit mobil Toyota Avanza dengan nomor polisi T 1865.GA, hari Jum’at sekitar jam 5 sore tepatnya tanggal 24 Mei 2019 di jalan cibuaya desa cibuaya kecamatan cibuaya kabupaten Karawang.

Mobil yang di rusak kaca mobil dipukul pukul dan bember mobil di tarik sehingga terlepas dari dudukannya .

Jaksa penuntut umum dalam dakwaannya menyakinkan bahwa saudara Deni pebri prayuda telah melakukan tindakan pengrusakan terhadap unit mobil Toyota Avanza sehingga mengakibatkan kerusakan ada unsur dengan sengaja sehingga jaksa dalam hal ini dalam tuntutannya saudara Deni pebri prayuda bin H. Saleh didakwa dengan tuntutan 6 bulan kurungan tegas agung Firmansyah S.H. selaku penuntut umum.

ditempat terpisah jaksa di temui oleh pihak korban, menyakinkan tersangka akan dihukum sesuai perundangan hukum yang berlaku .

hakim saat menanyai tersangka Deni pebri prayuda tegasnya apakah saudara keberatan dengan tuntutan jaksa, Deni pebri prayuda bin H.soleh berasumsi bahwa tindakan yang saya lakukan disebabkan cemburu.

hakim dalam putusannya sidang di tunda 2 Minggu kedepan .

rusmin selaku Kaka korban korban berharap putusan pengadilan ,hakim bersikap tegas dan propesional dalam tuntutannya .

kode Etik Hakim. Adil bermakna menempatkan sesuatu pada tempatnya dan memberikan yang menjadi haknya, yang didasarkan pada suatu prinsip bahwa semua orang sama kedudukannya di depan hukum.

Pelanggaran hukum acara adalah jenis pelanggaran kode etik terbanyak yang dilakukan. Yaitu berupa: tidak cermat dalam membuat putusan, mengabaikan bukti, melanggar asas sederhana, cepat dan biaya ringan, dan lainnya. Pelanggaran kode etik lainnya adalah perilaku murni seperti: berpihak, berkomunikasi dengan pihak.
berperkara, suap/gratifikasi, iilaaselingkuh, dan berkata tidak pantas.

Pelanggaran administrasi juga banyak dilakukan oleh hakim terlapor seperti salah memasukkan saksi, tidak ce UUrmat dalam membuat putusan, dan lainnya.

(Agus Hendrayana Kabiro karawang.*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkini