oleh

YUK BUDIDAYA JAHE DALAM POLYBAG

KUPANG (NTT) POROS NUSANTARA – Di tengah maraknya penyebaran virus Corona (Covid-19), tanaman rimpang menjadi ramuan yang banyak diandalkan masyarakat. Di antaranya jahe, kunyit, temulawak, kencur, atau lengkuas ini disebut mampu menjaga daya tahan tubuh dari berbagai virus, termasuk virus Corona.

Dari ramuan tersebut, jahe menjadi salah jenis rempah-rempah yang paling sering dikonsumsi. Pasalnya, jahe dipercaya mampu menghambat infeksi virus dan bakteri. Dilansir dari MedicalNewsToday, jahe memilki sifat anti-inflamasi, antibakteri, antivirus sehingga baik untuk menjaga daya tahan tubuh.

Virus Corona yang semakin menyebar membuat permintaan masyarakat terhadap jahe semakin meningkat. Akibatnya, jahe semakin sulit didapatkan di pasaran, bahkan harganya pun melonjak tinggi. Jika Kita yang ingin tetap mengkonsumsi jahe untuk menjaga daya tahan tubuh maka kita bisa menanam sendiri Jahe di rumah.

Zingiber Officinale atau jahe merupakan tanaman herbal yang mudah dijumpai dan sangat cocok dibudidayakan di Indonesia. Jahe dapat ditanam dengan sangat mudah di lahan terbuka atau media lain seperti polybag. Meski begitu, jahe tetaplah tanaman yang perlu cara khusus dalam menanamnya.

Dari jenis, bentuk, besar rimpang, dan warnanya, jahe dibagi atas tiga jenis, yaitu jahe putih besar, jahe putih kecil, dan jahe merah. Jahe dapat ditanam di tanah yang memiliki ketinggian 200-600 meter di atas permukaan laut dengan rata-rata curah hujan 2.500-4.000 mm/tahun. Namun, pada umumnya, jahe di Indonesia hanya ditanam di pekarangan rumah dan pemanfaatannya pun sebatas untuk konsumsi rumah tangga.

Yuk Ikuti Bagaimana Cara Menanam Jahe Dalam Polibag (disadur dari https://bibitbunga.com/) Cara budidaya jahe bisa dilakukan dengan menggunakan media polybag. Hal ini bertujuan untuk menghemat lahan serta memaksimalkan hasil panen yang melimpah.

Untuk membudidayakan jahe, tanaman ini tumbuh subur di ketinggian sekitar 0 hingga 1500 meter dpl. Dimana tanaman ini juga membutuhkan curah hujan hingga 2500-300mm per tahun. Dengan kelembapan 80%. Nah yang menjadi pertanyaan apakah tanaman jahe ini bisa di tanam di polybag? Tentu saja jawabannya bisa. Pasalnya menanam jahe dengan menggunakan polybag ternyata memiliki beberapa kelebihan.

Pertama, tanaman jahe dengan menggunakan polybag akan lebih mudah dalam hal pemeliharaan. Kedua. Penggunaan lahan dan air yang lebih hemat dibandingkan menanam jahe di lahan biasa. Ketiga, hasil panen akan lebih banyak dibandingkan cara tradisional.

Mempersiapkan Media Tanam Jahe
Sebelum melakukan penanaman jahe di polybag, tentu saja persiapan media tanam merupakan hal yang paling utama untuk dilakukan. Dimana dengan tujuan menghemat lahan, penggunaan polybag pun juga dapat digantikan dengan karung bekas.

Media tanam yang diisikan ke dalam polybag diantaranya adalah tanah pasir dan pupuk organic dengan perbandingan 1:1:1. Sebaiknya pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang atau pupuk organic, dengan tujuan media tanam lebih mudah menyerap unsur penting dari dalam pupuk.

Pemilihan Bibit Jahe Setelah menyiapkan media tanam jahe, selanjutnya adalah mencari bibit unggulan. Dimana kriteria bibit unggulan diantaranya adalah berwarna cerah, tidak terdapat luka, berumur tua, dan tidak terdapat penyakit.

Selanjutnya siapkan larutan fungisida yang digunakan untuk meredam bibit jahe tersebut. Dimana tujuan utamanya adalah membersihkan bibit jahe yang mengandung penyakit ataupun bakteri jahat yang bisa menyebabkan busuk saat ditanam.

Sebelum ditanam di media tanam, lakukanlah penyemaian bibit jahe tersebut. Langkah mudah menyemai bibit jahe ini bisa diletakkan di atas jerami kemudian ditutupi jerami lagi selama 2 minggu. Sebaiknya tempatkan jerami yang disemai tersebut di ruangan yang tidak terkena matahari secara langsung dan dengan udara yang cukup lembab. Selama dalam proses penyemaian jahe, bibit jahe ini perlu dikontrol, dengan tujuan agar kelembapan bibit jahe tetap terjaga. Ketika jerami mulai kering bisa disiram dengan air sedikit demi sedikit.

Langkah Menanam Bibit Jahe
Setelah jahe keluar tunasnya selama masa penyemaian, segera pindahkan bibit jahe tersebut ke media tanam yang telah dipersiapkan sebelumnya. Dalam satu polybag bisa ditanami 3 hingga 5 rimpang. Yang perlu diperhatikan adalah cara menanam bibit jahe tersebut, dimana bibit jahe dalam keadaan berdiri atau tunas berada diatas. Kemudian tutupi tunas dengan tanah dengan ketinggian tanah sekitar 3 hingga 5 cm. Bibit jahe tersebut juga membutuhkan air secukupnya. Letakkan di tempat yang tidak terkena matahari secara langsung, pasalnya tunas jahe muda mudah menguning jika terkena panas matahari secara langsung.

Proses Pemeliharaan Jahe
Tanaman jahe setiap harinya membutuhkan pemeliharaan, dengan tujuan menghasilkan rimpang yang banyak. Dimana setiap harinya jahe yang ditanam dalam media polybag ini membutuhkan air setiap harinya. Penyiraman tanaman jahe ini bisa dilakukan pada sore hari hingga tanaman jahe berusia 0-3 bulan. Selain itu pada usia tanaman jahe berusia 2 bulan, bisa dilakukan pemupukan. Hal tersebut bertujuan agar kebutuhan unsur hara jahe tetap tercukupi dengan baik. Berikan pupuk organic dengan dosis kurang lebih 1/5 dari kapasitas media tanam. Pemupukan ini bisa dilakukan sebanyak 3 kali sebelum masa panen.

Selain penyiraman dan pemupukan, tanaman jahe perlu juga dijaga dari tanaman pengganggu. Penyiangan merupakan salah satu proses penting agar tanaman lain tidak mengambil nutrisi dan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman jahe.

Masa Panen Jahe, Untuk dapat memanen jahe dengan kualitas baik, jahe bisa dipanen saat berusia genap 12 bulan. Dimana pada usia tersebut jahe telah berusia tua dan rimpang jahenya memiliki berat mencapai 2 hingga 5 kg/polybag. Memanen jahe dari polybag ini sangat mudah. Dimana pemanenan hanya dilakukan dengan menyobek polybag tersebut dan pisahkan rimpang dengan tanah. Selain itu juga bisa dibilas dengan air bersih. Selanjutnya jahe tersebut diangin-anginkan baru dijemur dan siap untuk dijual/ dikonsumsi.

Kepala BPPSDMP Kementan Prof Dedi Nursyamsi menyoroti dukungan instansi teknis di daerah untuk membekali penyuluh pertanian dengan pengetahuan plus keterampilan budidaya rimpang.

agar petani rimpang lebih bergairah menanam karena sejahtera,” ungkap Prof.Dedi Dedi Nursyamsi kembali mengingatkan instruksi dan arahan Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo kepada jajarannya agar memantau produksi sektor pertanian selama masa pandemi Covid-19.

“Saat ini mulai masa panen raya Maret – April, petani harus dipastikan memperoleh juga harga jual yang layak, sehingga terjaga kesejahteraannya,” katanya mengutip pesan Mentan SYL.

( BBPP Kupang/amperawati)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkini