oleh

Inisiator Ecobrick Wajo melakukan sosialisasi bersama siswa SMA 14 Wajo tentang penanganan sampah plastik.

 

Porosnusantara.co.id, Wajo, Sulsel – Pada umumnya kita menggunakan kantong plastik untuk mengantongi belanjaan di pasar ataupun di toko-toko, banyak juga botol plastik sebagai kemasan yang digunakan oleh produk minuman, dan rata-rata kemasan makanan juga terbalut oleh bahan plastik. Bahayakah itu ? Tentu bahaya ketika plastik itu sudah menjadi sampah. Lho kenapa? Karena plastik itu sangat lama untuk bisa di uraikan, bisa sampai berpuluh-puluh tahun supaya sampah plastik itu terurai, apalagi botol plastik mungkin tidak dapat di perkirakan kapan botol itu dapat terurai. Eh kan bisa di bakar ? Duh belum pada tahu atau pura-pura tidak tahu ya ? Membakar sampah plastik dapat menyebabkan timbul zat yang jahat bahkan bisa menyebabkan kematian lho.

Hal inilah yang menginspirasi Suhasmin mantan ketua Hipermawa Wajo membentuk Komunitas ECOBRICK Kabupaten Wajo.

Apa itu Ecobrick ?
“Eco” dan “brick” artinya bata ramah lingkungan. Disebut “bata” karena ia dapat menjadi alternatif bagi bata konvensional dalam mendirikan bangunan. Maka dari itu ecobrick biasa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan furniture. Ecobrick adalah botol plastik yang diisi padat dengan limbah non-biological untuk membuat blok bangunan yang dapat digunakan kembali. Eko-batu bata ini adalah teknologi berbasis kolaborasi yang menyediakan solusi limbah padat tanpa biaya untuk individu, rumah tangga, sekolah, dan masyarakat. Juga dikenal sebagai Bottle Brick atau Ecoladrillo. Solusi limbah lokal ini mulai disebut Ecobrick oleh gerakan masyarakat yang berkembang di seluruh dunia.

Inisiator Ecobrick Wajo bersama pemerhati lingkungan dari Unhas melakukan sosialisasi dan mengajak siswa-siswi SMA 14 Wajo bersama ibu-ibu PKK Desa Lompoloang,Kecamatan Pitumpanua untuk mendaur ulang sampah plastik di aula Kantor Desa Lompoloang ,Kecamatan Pitumpanua, Kabupaten Wajo, selasa 29 /10/2019.

Pada sosialisasi tersebut peserta mengumpulkan botol mineral dan sampah plastik lalu diajarkan tentang bagaimana cara membuat ecobrick, cara mengisi botol mineral itu dengan baik hingga menghasilkan ecobrick yang sesuai kreteria yang bisa bernilai ekonomi. Diakhir acara Suhasmin mengajak peserta bergabung di komunitas Ecobrick Wajo untuk pengembangan selanjutnya.

“Kegiatan ini saya inisiasi karena prihatin terhadap kondisi sampah plastik yang berdampingan dengan kita. Masyarakat rata-rata memilih membakar sampah yang justru menambah polusi udara. Apalagi dengan memilih sungai atau selokan sebagai tempat untuk membuang sampah” ujar Suhasmin.

Selain itu, Ia juga berharap Pemda Wajo dapat lebih serius memperhatikan persoalan lingkungan sesuai amanah UU No.32 Tahun 2009.

EKA SULFIKA, S.Pd pembina SMAN 14 Wajo,  sangat mengapresiasi kegiatan tersebut karena ini merupakan solusi baru yang juga dapat membantu ekonomi masyarakat.

“Kami dari pihak sekolah bersedia mensinergikan kegiatan bertema lingkungan sehingga siswa juga lebih dapat menghargai lingkungan hidup yang mereka tempati.” ungkapnya.

Sementara Hj.Sumarni Harman S.ST,bidan Desa Lompoloang sangat terispirasi hal ini.

“Ini satu terobosan baru cara pengolahan sampah yang baik dan benar, kalo ini terus di sosialisasi kan Desa Lompoloang akan bebas sampah dan kita bisa terhindar dari penyakit menular.” ungkapnya .

Berdasarkan data yang diungkapkan Wakil Bupati Wajo Amran, SE di kegiatan ‘Indonesia Bersih Sampah 2025’ mengungkapkan kenaikan 345 ton sampah dari tahun sebelumnya sehingga diperlukan aksi preventif guna mengatasi masalah sampah ini. (Biro WAJO)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkini