by

Penyuluhan dan test Hepatitis bagi petugas permasyarakatan

Poros Nusantara – Selain TBC,Hepatitis C juga menjadi penyakit yang membutuhkan konsentrasi penanggulangan dan penyembuhan. Sehubungan dengan itu diseminasi tes Hepapatis C bagi Tahanan dan Narapidana di Wilayah DKI Jakarta, maka akan dilaksanakan Penyuluhan dan Tes Hepatitis bagi Petugas Pemasyarakatan yang akan dilakukan serentak di seluruh Indonesia. Acara yang di adakan Kamis pukul 08:00, tanggal 19 September 2019 di Graha Bakti Pemasyarakatan Lt. 6, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jl. Veteran no.11,Gambir, Jakarta Pusat cukup menyita perhatian parahadirin undangan Instansi pemerintah.

Pembukaan awal yang di sampaikan oleh Direktur P2PNL menkes Ibu Wiendra Waworuntu bahwa pada pengidap kelompok Hepatitis C dengan kepadatan lapas yang melampaui kapasitas memprihatinkan. Sedangkan akses pengobatan hepatitis C saat ini masih belum memadai. Karna itu resiko dan prevalensi Hepatitis C pada petugas DPP dan tahanan hampir sama dengan populasi kunci. Bersyukur dewasa ini layanan kesehatan berupaya memberikan pelayanan tes Hepatitis C telah terselenggara di beberapa lembaga Pemasyarakatan ataw lapas dan Rumah tahanan. Selain itu telah diselenggarakan pula pengobatan Hepatitis C di rumah Rumah sakit Pengayoman Jakarta. Namun meski begitu akses pelayanan masih perlu di tingkatkan di perluas keseluruh wilayah kesehatan lapas yang terdapat dalam rutan.

Karna rumah Sakit Pengayoman baru satu satu nya rumah sakit penampung, sehingga untuk layanan kedepan bekerja sama dengan rumah sakit lain nya Rumah sakit Pengayoman di tunjuk sebagai Rumah sakit penampung. Deteksi dini memang harus segera di lakukan pencegahan lewat pemeriksaan untuk menghindari resiko dan mempercepat tujuan pembangunan yang berkelanjutan. Untuk mewujudkan mengakhiri epidemi hepatitis C 2030 di indonesia.

Saat ini hitungan pengidap secara Nasional berjumlah 1,01persen,lapas Rutan 5,9 Persen ataw 32,5 juta orang yang berakibat terinfeksi. Ini merupakan target dunia yang memang harus di turunkan epideminya seperti di Rutan lapas yang merupakan salah satu intervensi utama pemerintah. Sebenar nya peringatan hari hepatitis C sedunia yang di selenggarakan setiap 12 juli justru untuk mengajak semua lapisan masyarakat agar dapat berprilaku hidup sehat. Keterlibatan semua pihak merupakan kunci keberhasilan yang nyata, baik Pemerintah pusat, Daerah, sektor lintas program, seluruh Masyarakat dan komunitas. Di antara komunitas yang ada seperti CAI, koalisi satu Hati, turut giat ikut membantu di Kementrian kesehatan dalam rangka program penanggulangan hepatitis C dan juga dukungan kemitraan Global untuk penentuan kebijakan yang efektif. Pada pidato yang di sampaikan oleh
Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS) Kemenkumham, Sri Puguh Budi menyampaikan, jumlah 5,9 persen pengidap hepatitis di penghuni lapas tentu jumlah yang tinggi dan patut di ketahui oleh semua pihak karna kalau sampai tidak di ketahui maka resiko selanjutnya akan lebih bahaya lagi tidak hanya para napi tahanan melainkan petugasnya. Bukan tidak mungkin Petugas tahanan lapas termasuk pada kelompok yang rentan dapat terinfeksi terpapar penyakit hepatitis C dan penyakit lainnya dari penghuni rutan lapas. Karna hal hal yang tidak mungkin di luar tapi di dalam rutan lapas ini sangat mungkin terjadi.

BACA JUGA  Gebrakan Program Inovasi baru seorang Dokter di Rutan Cipinang

Alhamdulillah memang tidak mudah melakukan penelitian terhadap kemungkinan penghuni yang mengidap hepatitis C, pengecekan terhadap sejumlah napi yang target awal nya tujuh belas ribu ternyata melampaui menjadi tujuh belas ribu empat ratus, artinya relefansi nya melebihi Nasional, sungguh ini sangat memprihatinkan bagi kita semua. Maka dari itu harus segera ada pengobatan yang serius dimana pihaknya memanfaatkan kerja sama berbagai pihak.
Ibu Sri puguh juga menyampaikan pertemuan ini sangat penting karna ke prihatinannya melihat kondisi lapas sedang tidak seperti biasa nya, di mana jumlah seratus dua puluh lapas yang ada di Indonesia harus di huni oleh dua ratus enam puluh ribu lebih. Artinya singgungan singgungan yang tidak mungkin di luar tapi di lapas tahanan sangat rentan terjadi.
Kita semua wajib tahu penularan Hepatitis dapat terjadi lewat penggunaan jarum suntik tidak steril/bergantian, terutama pada pengguna narkoba suntik, pasien hemodialisis, pasien yang pernah transfusi, sering berganti pasangan sex, Ibu ke bayi, keluarga pengidap (pasangan/anak), pengguna tato, tindik, pisau cukur, jarum, perawatan wajah, medicure/pedicure yang tidak steril juga petugas kesehatan yang tertusuk jarum bekas pasien. Sehingga beliau meminta untuk menjadi perhatian bagi seluruh petugas lapas bukan hanya di DKI,  juga di tempat lain nya sebab bukan tidak mungkin penularannya jauh lebih tinggi. Melihat DKI dekat dengan berbagai fasilitas, harapannya nanti bisa di replika oleh Rutan lapas yang lainnya. Lewat Telekonfren layar TV tron yang terhubung keseluruh ruang kelompok petugas lapas yang ada di indonesia, Ibu Sri Puguh Budi meminta agar petugas tahanan lapas konsisten meningkatkan kerja sama dengan dinas dinas kesehatan, mitra – mitra kerja lain nya yang sepaham untuk menurunkan prefalensi Hepatitis C.

Ibu Sri Puguh Budi juga mengutip pidato bapak Presiden yang lalu, dimana sasaran kesehatan masyarakat masuk kedalam program agenda Bapak Presiden untuk meningkatkan derajat, kesehatan, kesejahtraan manusia yang merupakan aset mahal untuk pembangunan nasioanal. Besar harapannya supaya Rakyat Indonesia menjadi Bangsa kelas Dunia yang unggul di tahun 2030 atau lebih cepat lagi tanpa harus menunggu tahun itu. Semua ini harus dengan keperdulian, tanpa ini semua tidak akan pernah terjadi. Kita semua tahu mencegah lebih baik daripada mengobati. Maka dari itu mohon di manfaatkan upaya desiminasi ini sebaik mungkin dalam upaya pencegahan, tentang hal hal apa yang harus kita ketahui untuk melakukan pencegahan. Meski ada kekurangan tapi pengupayaan harus terus kita tingkatkan bersama, dengan meminta agar Rumah sakit yang sudah di berikan dukungan fasilitas anggaran yang cukup siknifikan, di mohon untuk dapat berperan proaktif baik dari segi pelayanan, kebersihan, dan dapat menjadi penampung para pasien. Beliau menegaskan kepada Rumah sakit yang telah di tunjuk, apa bila tidak mampu mengelola dengan benar silahkan mundur, karna masih banyak yang siap untuk mengelola. Bukan tidak mungkin pengelolaan nya akan di serahkan kepada pihak swasta. Rasa miris ini beliau ungkapkan di atas mimbar forum, ketika beberapa waktu lalu saat mendatangi Rumah sakit tampak terlihat bukan seperti Rumah sakit yang di inginkan, sementara tempat perawatan tersebut jutrsu kita ketahui sangat di butuhkan oleh banyak Orang. Beliau ingin agar Rumah sakit khusus ini kedepan tidak hanya terbangun di DKI, tapi juga terbangun seperti di Sumatra utara, Surabaya, Sulawesi selatan dan lainnya yang membutuhkan pendirian Rumah sakit khusus ini. Karena ini khusus tentu akan berbeda dengan Rumah sakit pada umumnya. Untuk mereka yang sedang menjalani masa tahanan tentu perlakuan perawatan kepada para pengidapnya harus khusus dengan melakukan pemisahan dari tahana lainnya yang tidak terkena hepatitis C. Meski pun mereka tahanan, tetap harus di jaga kesehatannya dengan melakukan penguatan – penguatan, untuk kembali menjalani cara hidup yang sehat agar epidemik Hepatitis ini tidak semakin meluas melainkan menurun dengan siknifikan.
Untuk Rumah Sakit pengayoman di minta dapat menjadi Contoh untuk Rumah sakit lain nya.
Hadir juga dr Irsan hasan sppd,grh, dalam kata sambutannya beliau mengatakan, satu dari sepuluh Orang Indonesia mengidap penyakit ini. Namun begitu tidak ada larangan memisahkan mereka lewat makanan, piring, sendok, gelas, keringat dan lainnnya.  Karena penularan tidak melalui itu semua, melainkan lewat darah dan penularannya juga tidak mudah. Jadi dapat saya katakan bahwa tindakan mengisolasi mereka adalah salah besar. Harus kita semua ketahui, dahulu saat awal Obat ini di temukan harga nya sangat mahal sampai miliaran rupiah, penyembuhannya di lakukan lewat suntikan, nama Obat nya Interverol yang di suntikkan satu kali seminggu selama satu tahun. Harga obat hepatitis ini begitu mahal. Untuk satu kali suntik 2,5 juta Rupiah, yang bila kita kalikan sebulan, setahun maka sangat memberatkan bagi yang tidak mampu. Sehingga mau tidak mau dengan terpaksa melakukan berbagai cara agar bisa sembuh namun tidak sedikit berhenti di tengah jalan karna kehabisan biaya berobat. Dann sayang nya setelah berjuang setengah mati tingkat keberhasilannya hanya enam puluh lima persen, jadi hanya dua pertiga yang berhasil. Efek dari obat ini pun kurang baik sebab pasien akan mengalami hal yang kadang membuat kurang nafsu makan, mual, bahkan kadang ingin bunuh diri. Hb nya turun gara gara Obat. Jadi dokter segan memberi Obat Interveron. Kemudian muncul Obat baru namanya DAA (Direct Acting Antivirak) enak nya obat ini dengan cara di minum dan pemberiannya hanya tiga bulan, efek sampingnya rendah dan sudah di lakukan kajian kepada lima ratus orang tidak ada yang berhenti karna efek samping nya. Hampir semua selesai dan keberhasilannya mendekati seratus persen berhasil. Jadi kabar baik untuk yang lima persen terdekteksi dapat di obati. Kalau kita lihat pada hepatitis B ataw HIV obat nya hanya menekan Virus konsumsinya seumur hidup karna Virusnya di redakan bukan di sembuhkan. Tapi untuk Hepatitis C target nya sembuh total. Karna kemajuan empat lima tahun terakhir obat nya ada banyak. Salah satu obat bernama sovaldi, namun begitu harga masih juga mahal. Untuk harga satu pil adalah seribu US Dollar dengan pengobatan selama tiga bulan namun bila di kalikan seluruh nya harganya akan mencapai satu miliar.  Sehingga protespun terjadi di seluruh Dunia, seperti demonstrasi di Spanyol masyarakatnya turun kejalan meminta harga obat di turunkan karna di luar batas kemampuan daya beli. Sedang di Indonesia demontrasi terjadi justru karna obat tidak ada, sehingga mendesak kementrian kesehatan, badan Pom mengadakan obat ini. Ada beberapa aksi damai dengan menginginkan obat ini agar segera ada, tapi hari ini kita bersyukur dalam program kementrian kesehatan (Kemenkes), jutrsu hari ini pelayanan obatnya berikan dengan gratis. Dan tidak cukup sampai disitu pemerintah juga terus mendorong memperkuat akademisi dengan universitas untuk mendukung upaya penanggulangan Hepatitis C di lingkungan permasyarakatan. Maka dari itu kesempatan ini harus di manfaatkan sebaik mungkin oleh kita semua agar bangsa yang sehat, berkualitas dan Unggul segara dapat terwujud ungkap nya memgakhiri.

BACA JUGA  RELAWAN JPKP RI KARAWANG PEDULI TERHADAP WARGA

(ZEffAN)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkini