by

Idris – Pradi Masih Jadi Barometer Di Pilkada 2020

 

Poros Nusantara, Depok – “Siapa Penantang Petahana di Pilkada 2020” itu lah diskusi yang diselenggarakan oleh Kalam-HMI (Kumpulan Alumni HMI Kota Depok). Sebagai inisiator dari praktisi media Hendrik Reseukiy dan Furkan Sangiang. Acara tersebut , Selain Itu juga hadir bakal calon Walikota atau Wakil Walikota dari DPRD Depok seperti Hafidz Natsir PKS, dari PDI-P Depok dan lainnya, Rabu (18/9), di Cafee Ghawil GDC Kota Depok, Jawa Barat.

Pengamat Sosial UI Devi Rahmawati menilai, bahwa saat ini masyarakat Kota Depok khusus nya sudah dewasa dalam menyerahkan kepercayaan kepada pemimpin dengan penyelesaian yang konkrit. Sebab, hingga kini belum ada yang muncul penantang petahana yakni, Wali Kota Depok Mohammad Idris dan Wakil Wali Kota Depok Pradi Supriatna.

“Sebab, dari survey sederhana yang dilakukannya dari berbagai lembaga, sampai saat ini belum ada muncul calon penantang bagi petahana yang sebanding. Jadi pertanyaannya bukan pada siapa sosok penantang petahana, tapi siapa saja yang keluar dalam survey sebanyak 48 persen. Ini juga menjadi peluang bagi siapa saja yang berminat maju sebagai pemimpin Depok masa mendatang,” ucap Devi, Rabu Pada Acara Tersebut .

BACA JUGA  Mobil Xenia Menabrak 2 Bentor di Depan RSUD Siwa.

Dia menjelaskan, kendati belum menemukan sosok penantang namun bisa ditandingi dengan sosok yang memiliki kemampuan yang sepadan. Diantaranya: 10 program unggulan Kota Depok yang sebagian besar terlaksana dengan baik dan perolehan prestasi.

“Namun kenapa petahana diatas angin, karena prestasi yang bisa meyakinkan publik dan banyaknya massa yang kuat. Minimal penantangnya bisa menyamai prestasi atau menambahi program yang sudah ada. Program lain yang jelas bisa dirasakan Kota Layak Anak dan geliat sektor bisnis serta jasa. Sayangnya untuk menandinginya, sampai saat ini belum ada,” jelas Devi.

BACA JUGA  Manfaatkan Ruang Untuk Kegiatan Investasi

Menurutnya, kendati sempat muncul nama Iwan Fals yang popular di masyarakat, namun ia menilai tidak jaminan dalam keterpilihan. Jadi dengan kata lain, popularitas tinggi berbeda dengan elektabilitas.

“Artinya, dengan program yang dijalankan selama ini juga cukup bagus dan berjalan. Apalagi, dalam survey itu 40 persen masyatakat berharap agar program saja yang berjalan dan tidak melihat sosok,” tutur Devie.

Devie menambahkan, bahwa untuk menjadi seorang pemimpin adalah membangun sebuah monumen yang bisa dilihat dan dirasakan saat tidak menjabat. Pasalnya, langkah tersebut merupakan pola yang dijalankan Negara maju atau di Barat.

“Artinya, untuk nenjadi Walikota atau Wakil Walikota itu bukan saja penyambung partai saja. Namun, bagaimana bekerja dengan sebaik-baiknya dan otomatis partai akan dikenal dengan sendirinya. Sebab, yang dilakukan sekarang adalah membranding secara berkesinambungan dan membuat monumen peninggalan, bukan malah meruntuhkannya,” imbuhnya.

BACA JUGA  Anis Ristiani Berharap Bisa Merebut Suara Pemilih Milenial

Ditempat yang sama, Pengamat Kebijakan Publik dari UI Lisman Manurung menambahkan, bahwa untuk menjadi pemimpin haruslah berkolaborasi. Sebab, permasalahannya Kota yang dihadapi ini adalah sama seperti moda angkutan transportasi massal. Bahkan juga masalah SDM yang masih kurang.

“Artinya, siapapun yang menjadi Walikota Depok tentunya akan menghadapi masalah dan tugas yang berat. Banyangkan saja, untuk ASN saja hanya kurang lebih 8 ribu orang berbeda dengan DKI yang mencapai 80 ribu ASN. Belum lagi, APBD Kota Depok yang minim jika dibandingkan dengan Kota penyangga DKI Jakarta,” Imbuh nya . ( Boy / Wahyu gondrong )

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkini