oleh

Satgas Gabungan Karhutla berupaya memadamkan karhutla di Kelurahan Sagatani, Kecamatan Singkawang Selatan kemarin

Singkawang, Poros Nusantara – Kurang lebih 12 hektare lahan di Kelurahan Sagatani, Kecamatan Singkawang Selatan terbakar sejak Jumat (2/8) kemarin.

Pemadamanpun masih dilakukan oleh Satgas Gabungan Karhutla hingga Selasa (6/8) siang kemarin. Dikuwatirkan api masih hidup, lantaran lahan yang terbakar merupakan tanah gambut dan mineral.” Kendala di lapangan memang medannya cukup menantang, terlebih kondisi tanah memang gambut dan mineral. Jadi ini yang menjadi tantangan kita,” kata Kepala Daops Manggala Agni Singkawang, Yuyu Wahyudin, Rabu (7/8).

Dalam lima hari melakukan pemadaman, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan Kepala BPBD Singkawang, untuk memohon agar pemadaman bisa dilakukan dengan Water Bombing.” Namun kondisi di Kalbar memang cukup pekat asapnya, sehingga Heli masih fokus melakukan pemadaman di Pontianak, Mempawah dan Kubu Raya,” tutur nya.

Kurang Lebih 12 Hektare Lahan di Sagatani Terbakar.

Manggala Agni sendiri, ketika melakukan pemadaman sudah sesuai SOP, mulai dari perencanaan, size up hingga pemadaman. Sehingga pada hari ini (Rabu,red) diharapkan sudah terlihat hasilnya.” Artinya, bisa di kondisikan jika asap dari kebakaran lahan sudah mulai berkurang,” katanya.

Mengingat wilayah kerja Manggala Agni Singkawang meliputi Sing Bebas (Singkawang, Bengkayang dan Sambas), supaya lebih berhati-hati terhadap api.” Saya juga mengimbau supaya masyarakat tidak membuka lahan dengan cara di bakar, terlebih sekarang ini musim kemarau panjang,” himbaunya.

Apalagi kata Yuyu, kinerja Manggala Agni dituntut lebih profesional dan inovatif. Menurutnya, Manggala Agni Singkawang saat ini mendapatkan bantuan drone dari Direktorat KLHK.” Bantuan drone ini untuk memantau titik api melalui alat ground checking, memonitor luas areal kebakaran hutan maupun lahan,” jelasnya lagi.

Apabila dilakukan pengamatan secara visual, maka personel yang ada di Manggala Agni Singkawang masih sangat terbatas. Tetapi, dengan adanya alat drone ini pengamatan secara ketinggian bisa di atasi karena bisa nampak secara kasat mata serta bisa di kalkulasikan luas areal hutan maupun lahan yang terbakar.” Manfaatnya sangat terasa sekali, karena sewaktu kejadian Karhutla di Kelurahan Mayasofa, kita sangat kesulitan mencari lokasi asap. Namun, sewaktu kita terbangkan drone, rupanya posisi asap ada di sebelah kiri kita. Barulah kita ketenu dengan areal kebakaran dan langsung menuju ke TKP tersebut,” katanya.

Secara terpisah, Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie mengimbau kepada masyarakat Singkawang untuk berhati-hati apalagi yang merokok untuk tidak membuang puntung rokok di sembarang tempat terutama di lahan yang benar benar kering.

Kalaupun ada masyarakat yang membakar, hendaknya api di jaga dan di siram sampai padam. Apalagi sekarang ini memasuki sembahyang kubur.” Kepada warga Tionghoa diimbau untuk berhati-hati, apabila melakukan pembakaran di sekitar pusara hendaknya padamkan dulu baru di tinggalkan,” tegas nya.

Menurutnya, sembahyang kubur sudah dimulai sejak tanggal 1-15 Agustus 2019.

Dari Pemkot Singkawang sendiri, melalui BPBD sudah diperintahkan khusus kelurahan yang rawan Karhutla harus sudah ada sumur bor dan mesin pompanya.” Hal ini sudah saya sampaikan pada tahun kemarin terutama kepala BPBD Singkawang yang sebelumnya. Kepada kelurahan yang rawan Karhutla harus ada sumber air sehingga sewaktu terjadi kebakaran bisa langsung di semprotkan ke titik api,” ujarnya.

Hanya saja terkait dengan sumur bor, sampai hari ini diakuinya masih belum mendapatkan laporan dari BPBD Singkawang.” Jadi saya belum mendapat laporan sejauh mana dengan kesiapan sumur bor itu,” tuturnya.

 

(Wahid- Yury)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkini