by

Ketua Lembaga Kerapatan Adat dan Alam Minangkabau (LKAAM): Adat dan Budaya di Sawahlunto Harus Dijaga dan Dilestarikan

Porosnusantara.co.id – Menyikapi ditetapkannya Sawahlunto sebagai warisan budaya dunia (heritage world) oleh UNESCO, pemangku adat dan agama ‘Kota Arang’ menyatakan mendukung dan siap memberikan pertimbangan – pertimbangan dari sisi adat dan agama kepada Pemerintah Kota (Pemko). Adat dan agama, sebagai kekayaan tak ternilai di Sawahlunto, juga menjadi tameng kuat agar masyarakat di kota berusia 131 tahun tidak terkontaminasi efek negatif budaya asing yang masuk dari jalur pariwisata yang bakal menggeliat menyusul penetapan ‘world heritage UNESCO’ tersebut.

Ketua Lembaga Kerapatan Adat dan Alam Minangkabau (LKAAM) Sawahlunto, Adi Muaris Khatib Kayo mengatakan, adat dan budaya di Sawahlunto harus semakin dijaga dan dilestarikan. Sebab karena kekayaan sejarah dan budaya itulah UNESCO menganugerahi ‘Kota Arang’ sebagai warisan budaya dunia.

“UNESCO saja mengakui budaya kita, pengunjung wisatawan yang datang nanti juga, selain melihat destinasi, mereka juga penasaran dengan sejarah dan budaya Sawahlunto. Karena itu, maka jangan sampai kita sendiri di sini yang acuh, yang meninggalkan budaya kita,” ujar Adi Muaris, ketika ditemui seusai pelepasan jemaah haji Sawahlunto di Masjid Agung Nurul Islam, Jum’at 12 Juli 2019.

Tentang budaya yang tetap terjaga di tengah ramainya pariwisata, Adi lantas mencontohkan bagaimana masyarakat di Bali yang tetap bisa komitmen menjaga dan melestarikan budayanya.

“Saya lihat, kita bisa mencontoh pada masyarakat Bali soal mempertahankan budaya ini. Di Bali, kalau pariwisata jelas sangat hebat, namun yang membuat kita kagum, budaya asli masyarakat di sana tetap asri lestari dan terjaga. Hal seperti itulah yang kita harap bisa diterapkan di Sawahlunto juga. Pariwisata kita bakal meningkat, namun masyarakat harus siap komitmen menjaga dan melestarikan budaya lokal yang sangat kaya dan unik,” sebut Adi Muaris.

Maka, Adi Muaris menyatakan bahwa seluruh unsur niniak mamak siap mendukung warisan budaya dunia dari UNESCO pada Sawahlunto ini, untuk itu maka dia juga meminta Pemko untuk selalu menjalin koordinasi dengan para pemangku adat dan agama.

“Tentu yang merumuskan sampai mengeksekusi kebijakan, apakah itu program atau pembangunan fisik, adalah Pemko. Sementara kami, siap membantu dalam memberikan pertimbangan maupun arahan – arahan sesuai adat, agama dan budaya,” ujar Adi Muaris.

Hal senada turut disuarakan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sawahlunto, H. Darmuis. Disebutkannya, status yang ditetapkan UNESCO pada ‘Kota Arang’ itu harus dimanfaatkan hal – hal kebaikan yang terbawa seiring ‘world heritage’ itu, namun tentu harus siap juga menyaring jika ada hal – hal yang tidak baik dan tidak sesuai norma agama dan adat yang berlaku di Sawahlunto.

“Status warisan dunia dari UNESCO ini kan menyangkut pelestarian sejarah dan budaya pertambangan batubara Ombilin maupun Sawahlunto secara umum. Dalam Islam, menjaga dan melestarikan sejarah juga dianjurkan. Sebab sejarah itu mengandung ibroh (pelajaran) yang harus menjadi renungan kita. Sebab hari ini harus lebih baik dari hari kemaren, salah satu pengingat tentang hari kemaren ya dari sejarah itu,” kata Darmuis.

Sementara menyambut bakal meningkatnya kunjungan wisatawan sebagai dampak langsung dari status world heritage itu, Darmuis mengingatkan agar dalam menyambut tamu, maka sesuai panduan Islam dalam menyambut tamu, masyarakat diajak untuk saling hormat – menghormati.

“Wisatawan itu adalah tamu kita. Dalam agama kita sudah diajarkan bagaimana ramah tamah dan penghormatan menyambut tamu. Selagi masih dalam kewajaran dan mereka juga menghormati, menghargai kita maka tentu kita juga wajib memberikan penghormatan dan penghargaan,” ajak Darmuis.

Sementara, Walikota Sawahlunto Deri Asta mengucapkan terimakasih atas dukungan dari pemangku adat dan agama bagi ‘world heritage UNESCO’ pada Sawahlunto itu.

Deri juga menyatakan bahwa Pemko pasti akan selalu mendengarkan pertimbangan dan arahan dari para pemangku adat dan agama dalam merumuskan maupun menjalankan serta mengevaluasi kebijakan terkait.

“Sesuai program unggulan kita, adat agama dan budaya itu masuk dalam prioritas. Maka sudah tentu kita selalu bergandengan tangan, menjalin komunikasi – koordinasi terus dengan pemangku adat dan agama,” pungkas Walikota berusia 45 tahun itu. (Yanto)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkini