by

Bangun Sekolah dengan Modal Dengkul

Jakarta, Poros Nusantara – Meski usianya sudah senja namun tetap terpancar wajah ceriah lantaran mendapatkan Nusantara Platinum Award dari Anugerah Prestasi Indonesia. Ini terungkap saat  Dra. Hj. Rosmaini, MS, M.Pd.i, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Diniyah Al Azhar  Jambi, memberikan kesan di atas panggung, teringat ketika awal-awal mendirikan Sekolah dulu.

Dimana ketika itu, Rosmaini usai menamatkan pendidikan setingkat Sarjana Muda pada Fakultas Dirasat Islamiyah Diniyah Putri, di Padang Panjang,  Sumatra Barat selama 12 Tahun.  Setelah itu, Ia pulang kampung, di Muara Bungo, di Jambi dan mengajar di SMA. Kemudian, Ia teringat cita-cita mendirikan sekolah yang sudah direncanakan semenjak di bangku kuliah.

Menurut Rosmaini, yang memotivasi dirinya terjun ke dunia pendidikan adalah manusia mulia disisi Allah, kalau Ia  bisa memberikan manfaat kepada orang lain. Makanya,  Ia mendirikan Sekolah tanpa modal sedikit pun alias modal dengkul. “Ini bukan sekedar istilah, melainkan benar-benar nyata, karena waktu itu tidak ada seorang pun yang mempercayai saya untuk mendirikan sekolah kecuali seorang Bupati,” cerita Rosmaini.

Ada tanah punya orang tua seluas tiga hektar tapi itu terendam air atau daerah rawa. Akhirnya, Ia menghadap bupati untuk mengutarakan keinginannya mendirikan sekolah. Bupati tidak setuju Rosmaini mendirikan sekolah diatas tanah milik orang tuanya karena tergenang air. “ Lantas, bupati menanyakan, berapa hektar tanah yang dibutuhkan untuk mendirikan sekolah itu? Secara spontan, Rosmaini menjawab 10 hektar. Seolah mulut ini lancar saja menjawabnya. Seminggu kemudian, bupati memberikan tanah 11 hektar untuk mendirikan sekolah, Alhamdulillah,” ucap syukurnya.

BACA JUGA  Menteri ESDM Ikut Prosesi Samana Santa di Larantuka

Tidak berhenti sampai disitu, rintangan Rosmaini mendirikan Sekolah. “Biasanya, ketika lembaga pendidikan membuka pendaftaran murid baru, langsung ramai, tapi justru kali ini hanya 1 murid dan cuma dua guru. Tapi Alhamdulillah, sekarang sudah ada tiga cabang Perguruan Al Azhar, satu di Provinsi Jambi, dua di Kabupaten dengan jumlah murid mencapai 3 ribu.  Sementara jumlah guru dan karyawan sekitar 300,” ujar Rosmaini.

Lebih lanjut, Ia menjelaskan sekarang membuka pendidikan mulai PAUD, Penitipan Anak, TK, Playgroup, SD, SMP, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah hingga perguruan tinggi  Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah. Ini diluar dugaan.

“Allah mengatakan barang siapa yang bersungguh-sungguh di jalanNya, maka Allah akan memberikan banyak jalan. Jadi, banyak jalan dan rejeki yang datang tanpa disangka-sangka. Jangan takut berbuat baik,” ujarnya.

Kisah inspiratif dari sosok Rosmaini dalam berjuang lewat jalur pendidikan adalah tidak adanya dukungan pihak keluarga. Bukannya, orang tua tidak punya uang, melainkan dirinya  dipaksa untuk berumah tangga. Makanya, dia menolak keinginan orang tuanya itu, hingga akhirnya tidak berikan uang saku yang menyebabkan dirinya tidak sarapan hingga siang hari saat pergi ke sekolah. “Tapi sekarang, Alhamdulillah kita bisa memberikan makan sebanyak 100 kepada anak-anak yang tinggal di asrama panti asuhan, “ kata Rosmaini.

BACA JUGA  Pegawai Kemenkop dan UKM Peringati HUT Kemerdekaan RI

Dengan tekad dan niat yang kuat mendirikan sekolah, pada Tahun 1977  berdiri Perguruan Diniyah Putri Muara Bungo, Jambi dan sekaligus menjadi cikal bakal berdirinya Sekolah Al Azhar pada Tahun 1987. Berawal dari keterbatasan dana operasional dalam menjalankan operasional lembaga pendidikan, akhirnya mendapat pinjaman rumah dari salah seorang dermawan yaitu H. Ramli dan Saman di Muara Bungo, Jambi.

Pada saat menghadapi tantangan dan masalah yang berat, serta berkat pertolongan dari Allah SWT, akhirnya Pemda memberikan tanah seluas 11 hektar untuk pesantren sebagai salah satu usaha jasa pendidikan yang diselenggarakan oleh yayasan di Rimbo Tengah, Bungo.

Mengelola lahan 11 hektar bukan perkara mudah, apalagi bagi seorang wanita yang memiliki keterbatasan dan kelemahan seperti Rosmaini.  Namun ini tidak membuatnya lantas pasrah begitu saja. Pasalnya, lahan seluas itu masih hutan belantara yang banyak dihuni oleh binatang buas dan kayu-kayu besar serta dalam waktu dua tahun telah menjelma menjadi lembaga pendidikan yang bergengi di Provinsi Jambi ini.

BACA JUGA  Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Kab. Pasaman Adakan Sosialisasi Lembaga Yang Berbasis Gender

Tepatnya, pada tahun 1983 lokasi baru tersebut ditempati dan mulai didirikan bangunan yaitu kelas sebagai kegiatan belajar mengajar, asrama santri dan rumah untuk guru. Ini semua berkat bantuan instansi pemerintah, infak, shadaqoh dari masyarakat dan simpatisan. Pada saat bersamaan juga dibangun sebuah Masjid dari seorang wanita donatur  asal Arab Saudi yang penyalurannya melalui Dewan Da’wah Islmiyah Indonesia (DDII).

Pada akhir kisahnya, Rosmaini menjelaskan tentang visi lembaga pendidikan ini yaitu  menjadi lembaga pendidikan Islam terkemuka yang terus menerus pola pengajaran terpadu : Al Qur’an, Hadits dan Ilmu – ilmu modern lainnya. “Ini semua dilakukan dalam rangka pembentukan generasi muda Islam Indonesia yang cerdas, professional, beriman dan bertaqwa serta memiliki militansi dakwah dan siap menghadapi perubahan dan tantangan zaman, “ ujarnya.

“Sementara misinya yaitu membentuk generasi Islam yang berjiwa Islam dan melahirkan pendidikan yang cakap, aktif, kreatif serta bertanggungjawab terhadap kesejahteraan umat, bangsa dan agama atas dasar kemurnian pengabadian kepada Allah SWT, “ kata Rosmaini.

Laporan : Windarto

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkini