oleh

SMP N 1 P.Cermin Ciptakan Sebuah Karya Seni Dari Limbah Plastik

Pantai Cermin Sergai, Poros Nusantara – SMP N 1 Pantai Cermin Kecamatan Serdang Bedagai (Sergai) SumateranUtara berhasil menciptakan sebuah karya Inovatif. Berawal dari niat membudayakan perilaku bersih lingkungan dan memanfaatkan sampah, kini SMP Negeri 1 Pantai Cermin memiliki banyak siswa terlatih dalam menjadikan limbah sampah berbungkus plastik menjadi karya seni inovatif, menarik dan bernilai ekonomis. Kamis (31/8).

Kepsek SMP N 1 P.Cermin Maryam S.Pd (Kiri) dan para Guru serta Siswinya  menunjukkan hasil karya daur ulang dari sampah plastik.
Kepsek SMP N 1 P.Cermin Maryam S.Pd (Kiri) dan para Guru serta Siswinya menunjukkan hasil karya daur ulang dari sampah plastik.

Maryam, S.Pd selaku Kepala Sekolah SMP N I mendampingi atau melihat para siswa/i  saat  proses pengolahan sampah daur ulang menjadi hasil kerajinan menarik yang dilakukan para siswa/i nya. Hal yang menarik dapat dilihat saat bagaimana para siswa/i  membagi tugas untuk pengolahan sampah berbungkus plastik tersebut mula dari membuka bungkus, memilah, merapikan, hingga menganyamnya sampai menjadi karya seni inovatif nan menarik seperti tas kerja, gantungan termos air, keset, tikar, alas mouse, vas bunga, dan lain-lain.

Dikatakan Maryam pada awak media : bahwa kegiatan positif ini telah berjalan mulai tahun 2013 lalu. Adalah Meri Sihaloho, Guru Keterampilan lulusan IKIP Medan Tahun 1984 yang tergerak menularkan ilmu menganyam yang dimilikinya untuk memanfaatkan sampah plastik yang ada disekitar lingkungan sekolah.

BACA JUGA  PROYEK REHAB GEDUNG DPRD KARAWANG DIKRITIK KETUA LSM SANGGABUANA.

Tidak mudah untuk mengarahkan minat siswa terutama dalam penerapan pemanfaatan sampah. Berbagai kendala dan hambatan dialami Meri, mulai dari pemahaman pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat dengan membuang sampah pada tempatnya, hingga pengetahuan tentang sampah plastik.

Berdasarkan penelitian, kantong plastik biasa atau plastik bungkus makanan, minuman serta deterjen membutuhkan waktu sepuluh sampai 12 tahun untuk terurai. Botol plastik lebih lama lagi. Karena polimernya lebih kompleks dan lebih tebal, botol plastik memiliki waktu 20 tahun untuk hancur.

Namun usaha dan kerja keras tidak ada yang sia-sia. Memulai pelatihan dengan 2 orang siswa, kini Meri Sihaloho dibantu Normalina Girsang telah membina 15 siswa dari internal sekolah, serta menjadi mentor untuk 10 sekolah binaan yang kesemuanya tingkat sekolah dasar. Dan kini SMPN 1 Pantai Cermin dengan program Mendukung Pola Minum Air Sehat, para siswa dihimbau untuk membawa minuman sendiri dari rumah, serta dengan diwadahi tempat minum buatan sendiri.

“Hal ini selain membudayakan hidup sehat, juga menumbuhkan kecintaan siswa kepada hasil karya sendiri yang tak kalah dalam hal bentuk, seni serta kualitasnya dibanding buatan pabrikan. Untuk bahan kerajinan, para siswa membawa sendiri dari sampah plastik dirumah masing-masing. 2 hal positif yang didapat yaitu membiasakan siswa untuk membuang sampah pada tempatnya, juga membuat rumah dan halaman menjadi bersih dari sampah, terutama plastik”, papar Maryam.

BACA JUGA  Garis Kemiskinan di NTT Meningkat 2,35 Persen

Sementara untuk kendala yang dihadapi, antara lain faktor penyediaan bahan serta distribusi hasil kerajianan tersebut karena gambaran atau imej yang rendah difikiran masyarakat akan sampah dan hanya orang yang berjiwa seni yang dapat menghargai hasil karya tersebut.

“Terima kasih kepada Bapak Bupati Soekirman dan Wabup Darma Wijaya serta Kadis Pendidikan Drs. Joni Walker Manik atas perhatian, bimbingan dan dukungan yang terus diberikan kepada kami. Hal ini menambah motivasi kami untuk menjadi pelopor Inovasi sesuai Visi Kabupaten Sergai yang Unggul, Inovatif dan Berkelanjutan”, pungkas Kepala Sekolah yang baru saja menerima Penghargaan Adiwiyata Mandiri dari Presiden Jokowi pada puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup Tingkat Nasional tahun 2017 di Gedung Manggala Wanabakti Jakarta, Rabu (2/8) yang lalu.

Mengambil makna dari kunjungan tersebut, seyogianya kita harus mendukung dan mendorong tumbuh kembangnya inovasi anak bangsa seperti yang dilakukan oleh siswa SMPN 1 Pantai Cermin tersebut.  Hal tersebut dapat dimulai dengan menggunakan hasil karya tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana kita dikatakan mendukung, jika kita saja tidak berniat untuk bangga memakainya.

BACA JUGA  Warga Gilireng Antusias Sambut Jokowi dan Iriana

Jika kita memulainya, maka dapat dibayangkan berapa banyak hasil karya daerah yang menghasilkan pemasukan bagi Pemerintah Daerah, yang intinya persoalan distribusi diyakini dapat teratasi. Tidaklah menjatuhkan gengsi jika kita memakai tas berbahan dasar plastik daur ulang, karena jika tas tersebut dianyam dengan sedemikian teliti, rapi dan indah, tentu menarik perhatian jika dikenakan. Dibeberapa kesempatan, bahkan turis asing begitu antusias terhadap hasil karya daur ulang plastik karya siswa SMPN 1 Pantai Cermin tersebut. Terlebih pada tahun 2016 lalu, anyaman tikar berbahan dasar plastik permen dan minuman sachet buatan SMPN 1 Pantai Cermin menyabet peringkat 2 pada ajang Pameran Kerajinan Sekolah Tingkat Provinsi Sumatera Utara.

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkini