Dapat Entaskan Kemiskinan di Keluarganya, Pemuda Kurang Mampu Didorong Ikut Beasiswa Bidikmisi

0
65 views

Porosnusantara.co.id, Jember Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mendorong pemuda dari keluarga kurang mampu untuk berkuliah melalui beasiswa Bidikmisi. Nasir menyatakan beasiswa ini dipastikan dapat memutus kemiskinan di keluarga mereka serta mengurangi angka kemiskinan dan angka pengangguran di masa depan.

“Kalau orang semakin pintar, pasti mampu menggerakkan ekonomi. Economic capacity-nya pasti akan lebih baik. Orang yang punya pendidikan lebih baik, dia akan menerima perubahan lebih mudah. Orang yang punya pendidikan tinggi, punya inovasi lebih baik. Itu sudah pasti,” ungkap Menristekdikti di hadapan media setelah memberikan kuliah umum “Peningkatan Softskill Mahasiswa Program Bidikmisi dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0” di Universitas Jember (Unej) pada Minggu (7/4).

Nasir menyatakan saat ini pemerintah sudah meningkatkan beasiswa Bidikmisi untuk mahasiswa baru dari 90 ribu pada 2018 menjadi 130 ribu mahasiswa baru untuk 2019. Nasir menyatakan pemerintah puas dengan kinerja akademik dari mahasiswa Bidikmisi dan pencapaian profesional mereka setelah lulus.

“Yang gagal (lulus) hanya 1 persen. 99 persennya berhasil lulus. Contoh tadi (di Universitas Jember) ada anak Bidikmisi yang IPK-nya 3,95. Anak Teknik Sipil yang IPK-nya 3,98. Ini tidak mudah mendapatkan IPK di atas 3. Di rumpun sosial tadi ada IPK 4. Bagaimana mereka belajar itu luar biasa. Kami memberikan apresiasi kepada mereka,” ungkap Menristekdikti setelah memberikan enam laptop baru kepada enam mahasiswa dan mahasiswi peserta kuliah umum dengan IPK tertinggi.

Nasir menyatakan kunci keberhasilan mahasiswa Bidikmisi terletak pada daya tahan mereka dalam menghadapi tantangan di perguruan tinggi dan dunia kerja.

“Anak Bidikmisi itu bisa merasa kurang mampu tapi mereka mendapatkan angin segar, yaitu beasiswa yang diberikan pemerintah. Dengan adanya beasiswa itu, struggling mereka sangat tinggi. Mereka biasa hidup kurang mampu, daya juang mereka keras, tapi mendapatkan umpan sedikit, bisa lari dengan cepat,” ungkap Nasir.

Nasir menyatakan apabila pemerintah tidak memberikan beasiswa Bidikmisi bagi mahasiswa, angka kemiskinan di masa depan akan membengkak dan beban pengangguran akan meningkat.

“Jangan sampai pada saat kita dapat bonus demografi, sumber daya kita tidak berkualitas, pasti akan menjadi malapetaka Indonesia. Bukan kemiskinan semakin mengecil, tapi akan melebar kalau tidak ada beasiswa,” ungkap Nasir.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor Universitas Jember Mohammad Hasan turut mengapresiasi mahasiswa Bidikmisi yang tingkat mudah diterima di lapangan kerja.

“Bidikmisi yang memang sudah dimulai oleh pemerintah beberapa tahun lalu di Universitas Jember ini sendiri sudah meluluskan 2.200 sarjana. Beberapa profil lulusan kami alhamdulillah sudah menyebar, termasuk sudah banyak diterima di pekerjaan di masyarakat, baik di pemerintahan maupun nonpemerintah di semua bidang, termasuk yang jadi dokter sudah ada,” ungkap Universitas Jember Mohammad Hasan.

Motivasi Menristekdikti bagi Mahasiswa Bidikmisi

Dalam kuliah umum “Peningkatan Softskill Mahasiswa Program Bidikmisi dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0” di Gedung Soetardjo Universitas Jember, Menristekdikti menyatakan kepada mahasiswa Bidikmisi dirinya dulu turut berjuang saat berkuliah di Universitas Diponegoro.

“Saya sendiri anak petani. Orang tua saya tidak mampu membiayai saya kuliah di perguruan tinggi di Universitas Diponegoro saat itu. Saya kerja juga (sambil kuliah). Dari anak petani jadi Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Anda juga harus bisa,” ungkap Nasir.

Menristekdikti turut memberikan tips kepada para mahasiswa Bidikmisi agar dapat melampaui mahasiswa lainnya.

“Kalau Anda ingin sukses, ada kunci yang Anda perlu pahami, yaitu pintar, kendel, dan benar. Anak Bidikmisi biasanya sudah pintar, tapi kendelnya ga ada. Kendel itu bahasa Indonesianya berani. Pintar tapi tidak kendel , jadi pengangguran. Kendel tapi ga pintar, jadi ngawur . Jangan sampai seperti itu. Kita juga harus selalu benar,” ungkap Nasir di hadapan 500 mahasiswa Bidikmisi dari Universitas Jember dan Politeknik Negeri Jember.

Turut hadir dalam kuliah umum ini Direktur Kemahasiswaan Kemenristekdikti Didin Wahidin, Rektor Universitas Jember Mohammad Hasan, Direktur Politeknik Negeri Jember Nanang Dwi Wahyono, Kepala Unit Program Belajar Jarak Jauh Universitas Terbuka (UPBJJ-UT) Jember Mohammad Imam Farisi, para eselon perguruan tinggi negeri di Jember, serta mahasiswa dari Universitas Jember, Universitas Terbuka di Jember, Politeknik Negeri Jember, serta Universitas Islam Jember. (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here