Tingkat Konsumsi Ikan Di Sawahlunto Terus Mengalami Peningkatan Setiap Tahunnya

0
21 views

Porosnusantara.co.id, Sawahlunto – Tingkat konsumsi ikan di Sawahlunto terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Sehingga, tercipta peluang besar bagi masyarakat untuk dapat menjadi pemasok produksi ikan tersebut dengan menjadi pembudidaya ikan maupun memproduksi produk turunan berbahan baku ikan.

Untuk tingkat konsumsi ikan di ‘Kota Arang’, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan setempat mencatat pada tahun 2018 lalu mencapai 19,2 kg/orang/tahun. Angka itu merangkak naik dari tahun 2017 sebesar 18,1 kg/orang/tahun.

Sementara, untuk tingkat produksi ikan air tawar di Sawahlunto pada tahun 2018 tercatat di angka 216 ton/tahun. Angka produksi ini juga meningkat dari tahun sebelumnya, yang hanya 214 ton pada tahun 2017.

“Tingkat konsumsi ikan dan tingkat produksi ikan di Sawahlunto sesuai catatan yang kita dapat dengan survei dan penghitungan ke berbagai sampel di lapangan terus menunjukkan kenaikan. Namun dengan memperhatikan perbandingan antara angka produksi dengan angka konsumsi, bisa kita lihat bahwa peluang untuk penyedia produksi ikan di Sawahlunto ini terbuka lebar,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Sawahlunto, Hilmed, Kamis 14 Maret 2019 seusai membuka kegiatan ‘Gemar Makan Ikan’ di GPK Sawahlunto.

Ditambahkan Hilmed, pihaknya memberikan beberapa program untuk memfasilitasi masyarakat untuk dapat menjadi pembudidaya ikan. Diantaranya melalui pemberian bantuan bibit ikan.

“Silahkan masyarakat yang memiliki kolam di rumah yang bisa dijadikan produktif dengan diisi ikan, bisa mengajukan permohonan untuk dibantu bibit ikannya. Caranya silahkan lapor ke pemerintahan desa setempat. Nanti dari tim Dinas terkait akan turun untuk survei bagaimana kondisi kolam dan sebagainya,” jelas Hilmed.

Dari data yang diberikan Hilmed, jenis bibit ikan yang bisa diberikan Pemerintah Kota (Pemko) yakni ikan gurami, ikan nila, ikan lele dan ikan mas.

“Untuk jumlah bibit ikan yang bisa dibantu, itu berdasarkan hasil survei tim teknis yang kami turunkan ke lokasi pemohon bantuan,” ungkap Hilmed.

Saat ini, jumlah pembudidaya ikan di Sawahlunto menurut hitungan Kepala Seksi (Kasi) Benih/Bibit Produksi Peternakan & Perikanan Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan & Perikanan, Freddi Halil yakni sebanyak 629 orang.

“Selain pembudidaya ikan perorangan, juga ada kelompok pembudidaya ikan, itu sampai sekarang tercatat sebanyak 22 kelompok,” ujar Freddi Halil.

Dikatakan alumnus Fakultas Peternakan Universitas Andalas (Faterna Unand) itu, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan memfasilitasi kelompok – kelompok pembudidaya ikan tersebut dengan bantuan benih, sosialisasi teknik perikanan, dan lainnya.

Dalam hal meningkatkan minat masyarakat untuk mengonsumsi ikan, juga dilakukan sejumlah program. Kini program itu diakrabkan ke masyarakat dengan tag line ‘Gerakan Mari Makan Ikan/Gemarikan’.

Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan, Henni Purwaningsih menyebut, dalam gemarikan terdapat sejumlah item program seperti sosialisasi manfaat makan ikan, lomba masak menu berbahan dasar ikan, lomba jingle ayo makan ikan, dan lainnya.

“Intinya, melalui gemarikan ini kita memancing antusiasme masyarakat untuk lebih menyenangi, lebih suka makan ikan. Termasuk juga bagi anak – anak dan generasi muda kita dekati untuk mengakrabkan dengan makanan berbahan ikan,” kata Henni.

Minat masyarakat Sawahlunto yang sudah mulai meningkat untuk mengonsumsi ikan ini diakui oleh Suci, salah seorang pedagang ikan laut di Muaro Kalaban. Menurut dia, sekarang ini dirinya bisa menjual rata – rata lima kilogram ikan setiap harinya.

“Sekarang ini memang terasa ada peningkatan. Buktinya ikan yang saya jual ini, biasa rata – rata terjual sampai lima puluh kilogram setiap harinya,” cerita Suci.

Ditambahkan Suci, salah satu penyebab ikan yang dijualnya memancing banyak pesanan konsumen adalah karena ikan yang dijualnya adalah ikan yang diambil langsung dari nelayan dan diolah (diproses, dikeringkan, dan lainnya) langsung oleh dirinya dan beberapa karyawan. Sehingga untuk kesegaran ikan terjaga, juga konsumen mendapat jaminan bahwa ikan yang dijual terbebas dari bahan pengawet berbahaya.

Untuk harga ikan, dikatakan Suci masih cukup stabil dan masih terjangkau konsumen.

“Ya masih stabil. Memang yang di kisaran mahal ada dong. Seperti ikan tuna, juga beberapa ikan lain yang lebih spesifik atau dipesan khusus, itu memang ada peningkatan harga,” kata Suci.

Dari kalangan ibu – ibu juga menceritakan bahwa di keluarga mereka menu makanan berbahan ikan juga banyak disukai. Sehingga dalam seminggu bisa ada sampai empat atau lima hari makanannya berbahan ikan.

Dari keterangan Tanti Yosefa, salah seorang kaum ibu yang juga aktif di PKK, di rumahnya anak – anak suka dan terbiasa makan ikan.

“Untuk memasak dengan bahan ikan ini juga ndak terlalu sulit. Ya seperti masak bahan makanan lain lah ya. Kalau hanya untuk digoreng, kan simpel. Paling nanti perlu tambahan lain kalau masaknya dengan inovasi, maksudnya dipadukan dengan makanan lain,” cerita Tanti.

Cuma memang, untuk mendapatkan ikan laut segar di Sawahlunto menurut Tanti terasa agak sulit. Hal ini disebabkan jarak Sawahlunto dari Kota Padang, tempat penghasil ikan laut segar.

“Namun kalau untuk mendapatkan ikan air tawar biasa di Sawahlunto ini ya amanlah. Di pasar ada, atau kadang juga tetangga ada yang punya kolam ikan,” pungkas Tanti. (Yanto)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here