Ciptakan Karyawan Profesional di Tengah Persaingan Era Globalisasi, PT. SSG Adakan Workshop

0
99 views

PorosNusantara,  Jakarta – Awal Tahun 2019  PT. Sains Solusi Global melakukan langkah-langkah strategis agar mampu bersaing di era global dan mencapai target-target yang telah ditetapkan perusahaan. Salah satu langkah strategis yang ditempuh adalah menggelar workshop bagi karyawan yang tergabung dalam holding company Sains Solusi Global yang terdiri dari CV. Anugerah Prestasi Indonesia (API), PT. Media Titian Nusantara (Tabloid Poros Nusantara), Aplikasi Jago. Pagelaran workhop berlangsung di Hotel Mega, Jakarta selama dua hari, dari tanggal 10-11 Januari 2019.  Para karyawan tampak serius dan antusias mengikuti  jalannya pelatihan.  Pasalnya, pihak manajemen PT. SSG menghadirkan pembicara-pembicara yang handal, diantaranya Edi Swandi selaku Direktur PT. SSG, Hermansyah, BP (Motivator), AKBP Jajang B, Dr. Taufik (STEI Semarang).

Tema yang diambil dalam workhop kali ini, yaitu “Membangun SDM handal, Profesional, Berdaya Saing Dengan Mentalitas dan Integritas yang Execellent.

Direktur PT. SSG, Edi Swandi
Direktur PT. SSG, Edi Swandi

Pada Awal sambutan workshop, Edi Swandi menyampaikan agar karyawan yang tergabung dalam holding company Sains Solusi Global  agar memiliki profesionalisme dalam bekerja yang dilandasi niat   memajukan perusahaan. Pasalnya, dengan niat yang kuat itulah akan muncul sikap-sikap yang positif dan membentuk etos kerja serta meningkatkan daya saing.

Tidak hanya itu, Edi juga selalu menanamkan kepada karyawan agar memiliki jiwa pengusaha. Pasalnya, PT. SSG memiliki produk penghemat listrik yang membuka peluang bagi karyawan untuk ikut memasarkan dengan  imbalan komisi yang cukup tinggi, selain selain mendapatkan gaji setiap setiap bulan. Maka dari itu, karyawan jangan terlalu banyak berharap dari gaji, tapi dari komisi. “Jika karyawan benar-benar menerapkan strategi penjualan-penjualan yang diajarkan di workshop maka   bisa jadi penghasilan yang diterima bisa lebih besar  dari gaji,” kata Edi.

Sementara itu, Hermansyah pada hari pertama, memaparkan materi I Am Salesman (Aku bangga jadi salesman), bagaimana strategi meraih impian (dream) dan prospekting (Teknis menjadi sales yang profesional).

Banyak orang yang beranggapan menjadi sales atau marketing profesi yang hina. Tak heran, diantara mereka ada yang meremehkan profesi sales. Lebih baik menjadi PNS atau bekerja di Bank dengan gaji yang besar.

WhatsApp Image 2019-01-11 at 11.47.01

Menurut Hermansyah, akibat meremehkan profesi sales banyak diantara mereka yang hidup dalam kondisi pas-pasan bahkan tergolong miskin. Padahal,  Nabi Muhammad SAW mengawali karirnya menjadi pedagang (sales) sebelum diangkat menjadi Nabi. Tidak hanya itu, orang-orang kaya yang tinggal di rumah-rumah mewah mengawali hidupnya dari sales.

Lebih lanjut, Hermansyah menjelaskan perbedaan antara orang kaya dan orang sukses. Orang kaya hanya menumpuk kekayaan saja, tetapi orang yang disebut sukses itu memiliki 12 indikator, diantaranya mendaptkan penghasilkan yang dapat memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan, mendapatkan pasif income yang bisa diwariskan, memiliki kebebasan waktu, mempunyai kebebasan yang prima, keluarga yang bahagia dan masih banyak lagi.

Menariknya, Hermansyah membocorkan rahasia meraih impian (dreams) secara detail. Awalnya, dia menjelaskan perbedaan antara keinginan dengan impian. “Ilustrasinya begini, misalnya ada orang ingin maka pecel lele, lalu dia pergi ke warung tenda yang berada di pinggir jalan dan bertanya kepada penjual lele tadi.  Pak, ada pecel lele? oh..maaf sudah habis pecel lelenya. Yang masih ada apa?, sahut orang yang mau makan tadi.  “Ayam goreng dan ikan bakar,” jawab penjual warung tenda. Kalau gitu, saya minta makan ayam goreng sajalah. Tunggu sebentar ya.. saya gorengkan ayam dulu. Baik, terima  kasih, ” kata orang yang mau maka tadi.  Nah, itu yang dinamakan keinginan,” kata Ayah dari dua anak ini.

Lebih lanjut, Hermansyah mengatakan kalau orang yang punya impian tidak seperti itu. Dia akan mencari warung tenda yang  menyediakan   penjual pecel sampai ketemu. “Jadi, tidak hanya sekedar mencari satu warung tenda yang sedia pecel lele, lalu mau makan yang lain,” ujarnya.

Maka dari itu, kata Hermasyah, untuk meraih impian harus melalui langkah-langkah, diantaranya pertama meyakini bahwa manusia punya banyak potensi yang terpendam. Kedua, menuliskan sampai 100 impian. Pasalnya, menurut survey hanya  10 persen yang tujuan jelas, tetapi tidak berani menuliskannya. Ketiga, impian yang dituliskan harus detail dan keempat membangun impian dengan mengunjungi atau survey. Misalnya, impiannya memiliki rumah mewah, berkunjung ke rumah mewah yang dijual atau gelleri marketing developer perumahan mewah.

Karyawan dan Staff Group PT. SSG
Karyawan dan Staff Group PT. SSG

Materi yang ditunggu-tunggu para peserta workshop adalah prospekting. Pasalnya, menjadi sales atau marketing tidak seperti anggapan orang pada umumnya, misalnya sales harus pandai bicara. Tetapi justru menjadi sales harus lebih banyak mendengar, ketimbang menjelaskan produk knowlegde. “Presentasenya, 75 persen mendengar dan 25 menerangkan produknya,” tutur Hermansyah. Tidak kalah pentignya, sales itu saat menjual produk dengan lebih banyak bercerita orang yang sudah menggunakan produknya.

(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here