Panen Perdana Padi Udang Windu (PANDU) Di Lahan Tidur

0
158 views

Barru, Poros Nusantara  – Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) terus berupaya meningkat kesejateraan rakyat. Salah satu cara yang ditempuh melalui program minapadi yang mengintegrasikan integrasi dua teknologi menjadi suatu inovasi teknologi.

“Dengan metode ini, diharapkan alih fungsi lahan dapat berkurang dan dapat meningkatkan produktivitas pembudidaya dan meningkatkan ketahanan pangan nasional,” tutur Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Sjarief Widjaja,  di Desa Lawalu, Kecamatan Sopengriaja, Kab. Barru, Sulawesi Selatan, pada acara panen parsial udang windu dan serah terima bantuan di Instalasi pembenihan Udang Windu (IPUW) BRPBAPPP di Desa Lawalu, Kecamatan Sopengriaja, Kab. Barru, Sulawesi Selatan. (18/12).

Minapadi Air Payau Padi Udang Windu (PANDU) berada di lahan seluas kurang lebih 1 ha, yang terdiri dari 0,92 ha untuk kegiatan budidaya padi dan udang windu dan sisanya sekitar 0,08 ha untuk tandon (penampungan air payau). Dari panen parsial di Minapadi PANDU, diketahui bahwa selama 47 hari ukuran panjang maksimal udang hasil tokolan sudah mencapai 13 cm dengan berat 10 gram.

Kepala Pusat Riset Perikanan (Kapusriskan) Toni Ruchimat mengatakan bahwa Minapadi Air Payau PANDU pada awalnya merupakan lahan tidur (menganggur) yang terjadi akibat intrusi air laut. Untuk memanfaatkan potensi lahan tersebut diperlukan teknologi dan komoditas ikan dan komoditas padi yang toleran dan adaptif.  Sementara itu, perakitan udang windu unggul lahir melalui seleksi individu pada karakter pertumbuhan udang windu yang dilakukan di BRPBAP3-Maros. Selain faktor pertumbuhan, udang windu unggul ini juga dapat diadaptasikan pada air payau dengan salinitas rendah hingga kisaran 3-7 ppt. Sementara pemuliaan padi payau hasil rekayasa dari Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Sukamandi yang mampu mengadaptasikan padi pada salinitas 5-7 ppt.

“Budidaya Pandu ini dilaksanakan dalam kondisi off session, yaitu saat memasuki musim kemarau pada bulang Agustus 2018. Sumber air irigasi dan sumber air payau merupakan sumber utama dalam mengairi lahan PANDU ini selama 75 hari. Metode tapin atau tanah pindah di lahan penyemaian merupakan upaya mengkondisikan sistem perakaran padi mampu menyimpan cadangan makanan yang cukup untuk dipindahkan ke lahan sawah dalam kondisi payau. Sedangkan udang windu (Spesific Pathogen Free) dihasilkan dari metode tokolan dengan membesarkannya di kolam pendederan yang bertujuan memberikan kecukupan pertumbuhan melalui pemberian probiotik dan alga,” tuturnya.

Turut hadir dalam kegiatan ini, perwakilan Kepala Dinas Kabupaten Barru, Perum Perikanan Indonesia (Perindo) Farida, PT Bakrie Mina Bahari Andri Kabul,  Plt. Kepala Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau Maros, dan Kepala BB Padi Sukamandi.

Panen parsial ini merupakan upaya memanen salah satu dari komoditas udang windu yang disesuaikan untuk kebutuhan tertentu. Pada panen ini umur udang sudah memasuki 45 hari dengan ukuran panjang tubuh 12-13 cm dan berat rata-rata 10 gram. Sedangkan umur padi salin belum memasuki umur panen karena proses tumbuh bulir padi belum serempak dan akan memasuki umur panen pada 110 hari. Pelaksanaan panen padi diestimasikan pada bulan Januari 2019.

Laporan : Windarto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here