LEDikan Tingkatkan Hasil Penangkapan Ikan Pelagis 5 Kali Lipat

LEDikan Tingkatkan Hasil Penangkapan Ikan Pelagis 5 Kali Lipat

22 views
0

Pesisir  Selatan, Poros Nusantara – BRSDM (Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan), Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui kegiatan Inovasi Teknologi Adaptif Perikanan (INTAN), berhasil melakukan terobosan baru dengan membuat lampu penarik ikan yang dapat membantu meningkatkan hasil tangkapan ikan 5 kali lipat dan menghemat biaya operasi penangkapan para nelayan yang  dinamakan  LEDikan.

Menurut  hasil uji coba  yang telah dilakukan oleh nelayan, LEDikan telah memberikan hasil tangkapan yang memuaskan, semula tangkapan nelayan hanya memperoleh 100 kg untuk bagan ukuran 8,5 x 8,5 meter sekali angkat, setelah adanya penggunaan LEDikan, hasil tangkapan yang diperoleh menjadi 500kg sekali angkat.

Awalnya, LEDikan berasal dari ide peneliti BRSDM Agus Cahyadi. Hal ini berangkat dari kesadaran profesi nelayan adalah profesi yang mulia dan menjanjikan sehingga BRSDM tergerak menciptakan nelayan-nelayan yang modern dengan menggunakan berbagai macam teknologi canggih untuk menangkap ikan pelagis. “Salah satunya yakni Light attractor LEDikan yang berfungsi untuk memikat ikan dengan menggunakan lampu LED (light-emitting diode) dengan desain dan spesifikasi khusus,” kata Sjarief Widjaja, Kepala BRSDM, dalam Focus Group Discussion (FGD) Aplikasi Teknologi Light-Atractor untuk Alat Bantu Penangkapan Ikan Pelagis, pada Selasa, 4 Desember 2018, di Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pelabuhan Perikanan Pantai Carocok Tarusan, Pesisir  Selatan, Sumatera Pesisir  Selatan Barat.

Syarief menjelaskan di Indonesia, penggunaan lampu sebagai alat bantu pengumpul ikan sudah dimanfaatkan sejak tahun 1950 – an. “Namun dalam perkembangannya, menunjukkan bahwa penggunaan lampu menjadi tidak terkendali dan memunculkan dampak dan masalah baru, yakni menangkap lebih banyak ikan muda yang belum matang gonad, sehingga menggangu aktivitas pemijahan dan reproduksi ikan pada musim berikutnya, serta terjadi peningkatan polusi dan emisi gas rumah kaca (peningkatan Carbon monoxide)/CO),” papar  Syarief.

Lebih lanjut, Syarief memaparkan dampak negative yang ditimbulkan dari penggunaan alat ini, maka lembaga pengelolaan perikanan Internasional dan Regional Fisheries Management Organizations (RFMOs) telah berusaha mengendalikan penggunaan daya lampu yang digunakan melalui aturan yang dibuat dengan berbagai sanksi, salah satunya adalah sanksi pasar.

Tidak mau ketinggalan Indonesia, sebagai bagian dari masyarakat internasional dan anggota dari berbagai Lembaga Pengelolaan Perikanan Regional, turut mematuhi aturan-aturan tersebut, namun disisi lain perlu melindungi masyarakat nelayan dari sanksi tersebut. “Untuk itu, KKP melalui BRSDM sebagai lembaga riset berusaha mengatasi permasalahan yang timbul atas pengendalian penggunaan daya lampu pada bagan perahu/apung  seperti  dalam Permen KP 71 no/ PERMEN-KP/2016,” papar Syarief.

Dalam kesempatan ini,  Syarief Widjaya turut serta menyerahkan bantuan kepada masyarakat nelayan Carocok, berupa 15 LEDikan untuk 1 kelompok nelayan. “Prinsip kerja LEDikan yaitu memanfaatkan spektrum cahaya yang dihasilkan oleh LED untuk menarik plankton-plankton air disekitar bagan atau rumpon yang kemudian mengundang ikan-ikan kecil berdatangan. Secara alamiah wilayah tersebut sudah akan menjadi feeding ground (tempat yang menyediakan pakan) bagi ikan-ikan besar,” ujar Syarief.

Selanjutnya, akan terbentuk rantai makanan dan schooling (gerombolan) ikan disekitar bagan atau rumpon. Beberapa jenis ikan memiliki sifat fototaksis positif, yaitu ketertarikan terhadap cahaya yang mayoritas dimiliki oleh ikan-ikan pelagis dan ikan-ikan yang beraktivitas di siang hari. “Ikan-ikan tersebut akan bergerak dan membentuk schooling (gerombolan) disekitar sumber cahaya. Inovasi LEDikan ini akan membantu menarik ikan pada malam hari, yang mana ikan-ikan fototaksis positif akan menyebar di malam hari agar terhindar dari predator, untuk membentuk gerobolan disekitar bagan atau rumpon yang kemudian dapat terperangkap dalam jaring,” papar Syarief.

Laporan : Windarto

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY