Orang Daerah Ternyata Lebih Banyak Berinovasi

Orang Daerah Ternyata Lebih Banyak Berinovasi

120 views
0

Surabaya – Poros Nusantara, Selama ini orang beranggapan bahwa orang yang berinovasi berada di Jakarta saja, sebagai Ibukota Negara Indonesia.  Dugaan ini tidak selamanya benar,  terbukti banyak orang-orang daerah yang mampu meraih prestasi sehingga layak untuk mendapatkan penghargaan dari suatu lembaga.  Hal inilah yang dilakukan oleh Yayasan Bangun Indonesia Dengan Cinta (YBIDC) dengan menganugerahkan penghargaan kepada insan-insan yang berprestasi di daerah Jawa Timur dan sekitarnya, di Surabaya, pada Jum’at (26/10/2018).

YBIDC kali ini, menganugerahkan penghargaan kepada Dr. Tulus Kanti Rahayu, Kepala Sekolah SMP Negeri 47 Surabaya, Heri Nur Saputro, Direktur Utama PT. Jamkrida, Kalimantan Tengah, Deddy Purnomo – Co Founder Ghanesha Aesthetic dan Pondok Ayam Cabe, Anik Andrianti – Owner Cafe and Resto Azkiyo, Yani Mardiyanto, SE, Owner Kain Lukis Nasrafa, Supriyanto – Direktur Utama RSUD Dr. Iskak Tulungagung.

Menurut Ketua Umum YBIDC, Edi Swandi, SH penduduk Indonesia jumlahnya ratusan juta bahkan hingga mencapai 260 juta.  “Jangan melihat Jakarta saja, justru orang yang sukses banyak di daerah, karena hampir setiap hari saya keluar Jakarta. Disana kita melihat orang daerah lebih banyak yang berinovasi, lebih banyak berkreasi yang menumbuhkan imajinasi, mampu menumbuhkan kinerja dan bahkan lebih bagus dalam menumbuhkan leadership,” kata Edi dalam sambutan Anugerah Platinum Award.

Lebih lanjut, Edi mengatakan  sebuah anugerah kali ini, disampaikan di tempat yang sederhana, tapi maknanya tidak sederhana di tempat penyampaian ini. Pasalnya, “setiap pengakuan, anugerah adalah sebuah capaian, akumulasi dari yang telah dilakukan selama ini sehingga bisa dijadikan kategori ukuran. Tetapi untuk tidak berpuas diri,  atau berbangga diri, justru menjadi takaran untuk lebih meningkatkan kinerja, upaya dan usaha sehingga kita dapat bertemu lagi ditempat yang sama untuk menerima penghargaan selanjutnya yang lebih spektakuler,” ujar Edi yang juga Direktur Utama PT. Sains Solusi Global (SSG).

Edi mengaku  sambutan ini tadinya akan disampaikan oleh salah satu pejabat di Jawa Timur. Namun,  karena berbagai pertimbangan, akhirnya dirinya minta kepada pengelola pagelaran penganugerahan ini yaitu Anugerah Prestasi Indonesia (API)  untuk membatalkannya. Pasalnya, “saat ini adalah tahun politik. Pada tahun politik kita susah membedakan mana kawan dan lawan. Nanti, kalau kita undang pejabat A, pejabat B-nya curiga. Maka dari itu, guna menetralkan acara ini dan anugerah ini benar-benar  dari hasil riset independen,  kita ambil keputusan sampai tahun 2019  tidak mengundang pejabat,” kata Edi.

YBIDC hampir setiap hari melayangkan surat riset kepada pribadi-pribadi atau lembaga yang tersebar di seluruh Indonesia. Kemudian  hasil riset yang tadinya skala daerah dikembangkan menjadi nasional. “Dengan seleksi yang ketat, akhirnya bisa menghadirkan oramg-orang yang spektakuler dalam ruangan ini,” ujarnya.

Edi menegaskan pihak yayasan menilai prestasi itu tidak hanya sekedar untuk dirinya atau pun keluarganya, tapi bisa memberikan manfaat bagi orang lain, masyarakat di sekitarnya dan manusia pada umumnya. “Nah, sehingga yang hadir pada malam hari ini dan yang  akan menerima penghargaan, baik  para pribadi, usahawan, leadership, para pendidik, maupun para professional  yang handal adalah betul-betul pantas mendapatkan penghargaan,”  tegas Edi.

Pihak  Yayasan Bangun Indonesia Dengan Cinta terus berupaya mengirim surat guna melakukan penelitian, penelaahan, dan analisa serta mengundang  lembaga atau perorangan.

Menurut Edi, dirinya pernah   ditanya oleh salah satu konstituen, kenapa acara penganugerahan harus digabung dengan  yang lain? “Jawab Edi, oh..no problem, kalau dipisah, Kami siap memberikan penghargaan.  Kalau bapak bisa menyelenggarakan sendiri, saya sangat senang. Dengan catatan, tentukan hotelnya, berapa undangannya, nanti kita akan hadir sebagai lembaga yang akan menyerahkan penghargaan” ujarnya.

Dua hari setelah menerima tawaran itu, cerita Edi.  “Kontituens tadi menghitung total biayanya. Dua hari kemudian, dia telepon saya, dan mengatakan tidak sanggup membiayai itu semua,” kata Edi.

“Nah, oleh karena itu, kita kumpulkan jadi satu tempat yang terhormat agar penghargaan itu jauh lebih bermakna, kalau kita bisa berkumpul bersama, saling memberi ucapan selamat, saling bertepuk tangan bersama sambil berbagi kebahagiaan dengan yang lain. Setelah itu, baru ia tersadar. Itulah makna kebersamaan,” ujarnya.

Edi mengharapkan dengan pagelaran penghargaan ini, akan dapat menambah sahabat, bisa sharing dan akan muncul bisnis baru. “Seperti tadi ada yang presentasi dari Anugerah Kasih Investama, saya kira yang  disampaikan adalah sesuatu yang spektakuler, bisa kita kembangkan dan jalankan. Tentu disitu ada unsur  bisinisnya atau uangnya. Dan ini adalah suatu hal yang baru,” katanya.

“Oleh karena itu, saya ingin Yayasan Bagun Indonesia Dengan Cinta membuat perkumpulan yang terdiri dari orang-orang yang telah diberikan anugerah, bersifat independen, dari kita oleh kita, tapi bukan perkumpulan bisnis, tapi lebih pada perkumpulan pada moral dan sebagainya,” kata.

Laporan : Windarto.   

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY