Hati-hati Beli Alat Peghemat Listrik

0
322 views

Jakarta, Poros Nusantara – Kenaikan harga tarif listrik yang makin mumbumbung tinggi, ternyata membuka peluang tersendiri bagi para pengusaha yaitu  dengan memproduksi  alat penghemat biaya listrik (Energi Saver) . Namun, harap hati – hati dalam membeli alat penghemat listrik ini. Pasalnya, akhir – akhir ini banyak produk yang beredar dipasaran ternyata abal – abal alias palsu.

Hal inilah  yang membuat Keluarga Alumni Teknik Elektro (Kagatri UI) menggelar konferensi pers untuk menyikapi maraknya promosi alat penghemat energi  di Televisi – televisi, di Kampus UI Salemba, Jakarta (9/08/2018).

Hadir dalam acara tersebut Satrio selaku Humas Kagatri UI, Jiteng Marsudi mantan Direktur Utama PLN tahun 1990-an, Firman (Kagatri UI), Amin (Kagatri UI), Adi Melvan (Kagatri UI), perwakilan masyarakat selaku konsumen, YLKI, distributor, dan promoter alat tersebut serta dari awak media.

Dalam kesempatan itu, Firman menjelaskan sebelum menggelar konferensi pers ini, Kagatri UI telah menjalin bekerjasama dengan Laboratorium Pengukuran Listrik DTE-FTUI, melakukan penyelidikan, penelitian, diskusi dan akhirnya menghasilkan rekomendasi. Lebih lanjut, Firman menjelaskan alat tersebut intinya berisi komponen yang bernama Kapasitor. ” Pada beberapa produk yang beredar dipasaran, selain Kapasitor juga dilengkapi dengan Saklar, Lampu Indikasi dan Pengukur Tegangan (Volmater). Alat seperti ini, Kami namakan Penghemat Energi tipe 1 atau disingkat PE-1, ujarnya.

Ia menjelaskan PE-1 berlaku sebagai beban listrik reaktip kapasitip yang sanggup mengimbangi atau mengkompensir beban listrik induktip. Beban lisstrik induktip, misalnya alat – alat dalam rumah tangga, adalah motor listrik dalam kulkas, motor listrik dalam AC (pendingin ruangan), motor pompa dan lain sebagainya. ” PE-1 dapat menurunkan daya reaktip (Var) dan juga daya semu (VA). Sehingga pada instalasi industri acak kali dipasang Bank Kapasitor. PE-1 tidak dapat menurunkan daya aktif (Watt). Kalaupun dapat hanya sedikit sekali atau tidak signifikan yang mempengaruhi daya aktif “, imbuhnya.

” Sehingga tidak dapat menurunkan konsumsi  listrik energy listrik (Wh). Artinya tidak dapat menurunkan biaya pemakaian energy listrik (kWh) atau tidak dapat menurunkan rekening listrik “, ujarnya.

Lebih rinci, Firman dalam memaparkan,  selain tipe PE-1, juga disinyalir adanya tipe kedua yang disingkat PE-2 yang diklaim dapat menghemat konsumsi energy. Maka dari itu, Kagatri UI merekomendasik dan menyimpulkan sebagai berikut :

Pertama, PE-2 untuk sementara, patut diduga berupa peralatan yang berbasis artificial harmonic, dimana alat ini dibuat  dan disusun dari komponen elektronikal daya yang mengakibatkan penurunan dan pencatatan jumlah konsumsi engeri listrik (kWh) menjadi berkurang. Kedua, PE-2 dapat atau memungkinkan kerugian disisi produsen listrik seperti PLN ataupun perusahaan listrik swasta yang menjual energi listrik.

Ketiga, dalam beberapa tahun ke depan Tim Gatrik UI akan melakukan investigasi lebih mendalam, baik berupa riset laboratorium maupun riset industrial yang hasilnya akan dipublikasikan segera. Selain itu, Kami juga merekomendasikan untuk sementara apabila ada industry yang telah menggunakan PE-2 ini untuk segera menonaktifkan peralatan tersebut sambil menunggu hasil investigasi yang akan dilaksanakan Tim Gatrik UI.

Keempat, kami juga akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mencegah kerugian terutama PT. PLN (Persero), karena bila PLN rugi, maka Negara juga akan rugi. Jika Negara rugi, rakyat pun ikut rugi dan Kami pun adalah rakyat.

Dalam mengakhiri konferensi persnya, Firma menutup dengan slogan #Katakan : hitam bila hitam, putih bila putih dan #tiada kata jera dalam perjuangan#.

 

( Laporan :  windarto )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here