Kopdit Serviam Ingin Merubah Pola Pikir Warga

Kopdit Serviam Ingin Merubah Pola Pikir Warga

112 views
0

Kupang, Poros Nusantara – Koperasi Kredit Simpan Pinjam  (KSP) Credit Union Serviam yang beralamat di Penfui, Kupang selama ini lebih fokus pada kegiatan simpan pinjam, saat ini KSP CU Serviam mau merubah pola pikir warga terutama anggota bahwa dana yang dipinjam tidak untuk kepentingan komsumtif tetapi harus bisa berproduktif, untuk itu sejak akhir 2017 lalu manajemen memperkenalkan kepada anggota dalam upaya pengembangan tanaman sengon dan holtikultura di wilayah masing – masing. General Manager KSP CU Serviam Kupang, Benediktus Seran, S.H menyampaikan hal ini kepada wartawan di ruang kerjanya, Rabu (11/7/2018).

Benediktus mengatakan, “ sejak didirikan tanggal 25 Agustus 1985, KSP CU Serviam terus berkembang maju proses pelayanan selama ini lebih fokus pada usaha simpan pinjam tetapi, terus mencari terobosan untuk pemberdayaan ekonomi anggota. Tugas manajemen tidak hanya sekedar menyalurkan dana pinjaman kepada anggota tetapi memotivasi agar dana pinjaman tidak hanya sekedar untuk kepentingan konsumtif tetapi berdaya guna.

Menurutnya, untuk tahun 2018 ini  pihaknya membuat langkah baru dengan membangun spirit baru pada anggota terutama pada pertanian dan peternakan, untuk bidang pertanian tengah dirancang program  pengembangan sengon untuk bahan baku tripleks. ” Saat ini sedang dalam proses penganggaran kita kerjasama dengan Kopdit sekunder Pusdik Timor,  Kita mengajak anggota yang punya lahan untuk tanam sengon sehingga pada lima tahun kedepan sudah bisa menikmati hasil. Untuk memberi kepastian kita kerjasama dengan perusahaan pengolahan tripleks di Lumajang melalui MoU sehingga hasil produksi dikirim ke sana, ini langkah kecil untuk pemberdayaan ekonomi selain simpan pinjam yang sudah ada ” jelasnya.

Dijelaskannya, sekarang ini  anggota yang punya lahan sudah menyiapkan lubang untuk penanaman sengon dan diperkirakan  pada November – Desember sudah bisa ditanam bibitnya, pihak KSP CU Serviam katanya, menyiapkan bibit tapi anggota akan mengganti biaya pengadaan. Tujuannya sederhana untuk membantu anggota dalam menunjang ekonomi keluarga dalam jangka menengah maupun panjang  ” Selama ini ada  begitu banyak bibit sengon diberikan ke warga tapi tidak banyak yang menghasilkan, jadi kami merubah strategi tidak bisa diberi gratis tapi anggota ganti biaya pengadaan bibit, sehingga secara psikologis anggota merasa bertanggung jawab. Anggota merasa  sudah berkorban mengeluarkan uang sehingga harus jaga dan berhasil,  jadi ini bukan  orientasi proyek untuk bagi – bagi ” tegasnya.

Fokus perhatian lanjutnya,  pada wilayah pelayanan Serviam di Timor dengan melibatkan pemilik lahan dan manajemen Serviam, ini maksudnya agar tidak ada cost khusus untuk biayai orang khusus untuk merawat sengon tapi harus ada rasa tanggung jawab. Bisa  dalam bentuk kelompok dengan anggota 5-10 orang bisa juga pribadi asalkan ada kemauan.

Ditambahkannya, sosialiasasi yang dilakukan selama ini mendapat respon positif dari anggota. Mereka banyak yang antusias karena tidak  perlu lahan luas cukup di pekarangan rumah juga dimungkinkan, pola ini semata – mata untuk merubah pola pikir bahwa bisnis itu tidak hanya sebatas urusan konsumtif tetapi harus ada investasi buat masa depan.” Kita juga ada uji coba di TTS dan TTU pola  penanaman holtikultura berbasis lokal  kerjasama pemerintah desa, memang butuh proses lama  tapi menghasilkan seperti bawang merah, prinsipnya bukan proyek tapi gerakan spirit, Kita sebagai motivator bukan pelaku. Di wilayah utara Timor juga kita kembangkan kacang tanah, di Belu Utara kita kembangkan komoditi kacang – kacangan dan lombok. Kita mulai dari hal kecil, Jadi bukan pinjam saja tapi menghasilkan Kita sudah mulai diakhir 2017 untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat ” jelasnya.

Menurutnya, pola yang diterapkan ini semata – mata untuk  perkuat kapasitas anggota Tidak untuk dipamerkan namun dalam perjalanan inovasi ini dilihat   pemerintah sangat baik maka bisa berkolaborasi program bersama untuk kepentingan daerah. Khusus mengenai  pemasaran, saat ini masih dalam  pola tradisional dimana menyebarkan informasi melalui jejaring yang sudah ada karena karena masih berskala kecil dan ini spirit baru. ” Kita masih harus banyak berbuat untuk menyadarkan anggota, Tidak hanya fokus pola konsumtif tapi juga produktif. Banyak   lahan kosong yang belum dioptimalkan, memang  gerakan koperasi simpan pinjam banyak tantangan sehingga perlu rubah pola pikir dan keahlian. Ini butuh dukungan bersama apakah itu pelaku usaha maupun  pemerintah ” harapnya.

 

( Laporan : Erni Amperawati )

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY