Kudji Pellokila Herewila Klarifikasi Dugaan Wanprestasi

Kudji Pellokila Herewila Klarifikasi Dugaan Wanprestasi

131 views
0

Kupang, Nusaflobamora – Dosen Faperta Undana Kupang, Kudji Pellokila Herewila mengklarifikasi dugaan wanprestasi (kelalaian) selaku klien dari pengacara Alex Frans, S.H atas Jasa Advokasi kasus pembagian warisan atas 2 (dua) bidang tanah masing – masing seluas 4.456 M2 dan 21.195 M2 di Desa Tarus Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang.

Herewila menyatakan dengan tegas bahwa telah menyerahkan honor/fee sebesar Rp. 30 juta  pada tanggal 2 atau 3 Februari 2014 atas jasa advokasi (pengacara), meski diberikan dibawah tangan atau tanpa ada bukti tanda terima berupa kwitansi atau nota.

Kudji Pellokika Herewila menyampaikan hal ini kepada wartawan didampingi  6  pengacara yakni,  Yohanes D Rihi, SH, Paulus Seran Tahu, SH, M.Hum, Meriyeta Soruh, SH, Isak Lalang Sir, SH, Suyary Timbo Tulun, SH, MH dan Henry Sau Sabu, SH, MH, usai Sidang Mediasi yang digelar oleh Pengadilan Negeri (PN) Kupang, di RM Padang Persada di Jalan Herewilla Kota Kupang, Rabu (11/7/2018).

Herewila mengatakan, dirinya sendiri  yang menyerahkan  uang tersebut dan disaksikan oleh kedua anaknya saat Alex Frans menerima uang tersebut. Bahkan terkait biaya operasional  terus diberikan  hingga ke tingkat Mahkamah Agung diluar biaya Rp. 30 juta,

” Saya tidak pernah ada lagi hutang piutang usai adanya Putusan Mahkamah Agung, juga tidak pernah ada perjanjian pembayaran fee/honor advokasi sebesar Rp. 400 juta. Kalau saja dia pernah omong, detik itu juga saya titik dengan dia. Itu perjanjian bunuh diri kalau saya mengiyakan dan tidak wajar “, tegas Kudji.

Terkait kronologi kasus dugaan wanprestasi sebagaimana dikutip dari metrobuananews.com yang  diposting 2 Juli 2018 bahwa pada Januari 2016 tergugat I yaitu Kudji Herewila mendatangi kantor Kantor Hukum ALF Law Office memohon bantuan agar ALF Law Office membantu para tergugat menangani kasus pembagian warisan atas 2 (dua) bidang tanah masing – masing seluas 4.456 M2 dan 21.195 M2 di Desa Tarus Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang untuk dibagi 4 bagian, dibantah  Kudji Herewila.

Menurut Penggugat, biaya yang disepakati ketika itu berupa dana operasional kantor ALF Law Office Rp. 25 juta, honorarium kantor ALF Law Office pada Pengadilan Negeri Oelmasi, Pengadilan Tinggi Kupang dan Mahkamah Agung RI, Rp. 100 juta dan sucses fee kantor ALF Law Office apabila berhasil memenangkan gugatan pembagian warisan dan para tergugat mendapatkan haknya lebih kurang tanah seluas 18.000M2 maka kantor ALF Law Office diberikan fee 10% dari nilai obyek sengketa kurang 18.000M2 dengan perhitungan Rp 200 ribu per meter persegi sebagai harga terendah, sehingga dibulatkan Rp.300 juta.

Para tergugat akhirnya menyanggupi untuk membayar biaya operasional sebesar Rp.25 juta, sedangkan honorarium sebesar Rp.100 juta dan sucses fee 10 persen Rp. 300 juta akan dibayar sekaligus apabila perkara dimenangkan dan telah memiliki kekuatan hukum tetap.

Merasa tak mendapatkan hak advokasi sebagai ALF Law Office, Alex Frans bersama seorang anggota advokat ALF Law Office, Joksan A.D Nau melayangkan gugatan ingkar janji terhadap Kudji Herewila (Tergugat I), Haga Rame Herewila (Tergugat II) dan Bani Yuliana Rame Hawu (tergugat III), ke Pengadilan Negeri Kelas I A Kupang dengan perkara gugatan Nomor: 160/pdt.G/2018/PN.KPG.

Sedangkan dikutip dari Koran Victory News edisi terbit 2 Juli 2018, Alex Frans menuturkan bahwa dirinya mendapat Kuasa dari Kudji Pellokika (KP) untuk menjadi pengacara mereka dalam sidang gugatan pembagian warisan tanah di Tarus.

Ia (Alex Frans) mengungkapkan sejak perkara bergulir dari Pengadilan Negeri hingga ke Mahkamah Agung, kliennya yang kini sebagai tergugat baru membayarkan biaya operasional saja. Untuk itu Alex mengajukan  gugatan wanprestasi atau ingkar janji.

 

( Laporan : Erni Amperawati )

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY