Kudus Berduka Atas Kepergian Sosok Kiai Sepuh Kharismatik, KH. Choirozyad Turaichan Adjhuri

Kudus Berduka Atas Kepergian Sosok Kiai Sepuh Kharismatik, KH. Choirozyad Turaichan Adjhuri

4,014 views
0

Innalillahi Wa’innalillahi Roji’un, Umat Islam di Kabupaten Kudus kembali berduka. KH. Choirozyad Turaichan Adjhuri, salah satu kiai sepuh kharismatik wafat pada Jum’at, 8 Juni 2018.

(Yi Zyad) demikian KH. Choirozyad biasa disapa, meninggal dunia sekitar pukul 05.50 WIB di Rumah Sakit Islam Kudus dalam usia 74 tahun, setelah sebelumnya dirawat di rumah sakit Islam tersebut selama beberapa hari. Jenazah akan dimakamkan hari ini di Pemakaman di Sedio Luhur, Krapyak pada pukul 16.00 WIB.

Putra KH. Turaichan Adjhuri itu, semasa hidup mengabdikan diri di Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyah Kudus dan mengajar di Langgar Dalem tak jauh dari kediamannya, sepeninggal Mbah Tur – sapaan akrab Sang Ayahanda.

Selain mengajar di Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyah, (Yi Zyad) juga sering diundang oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Beliau pun senantiasa menghadiri berbagai undangan yang ada, selama tidak berhalangan.

Pada awal-awal hingga pertengahan Ramadan tahun ini, sebagaimana biasanya, (Yi Zyad) juga masih mengajar di Langgar Dalem. Nguri – Nguri tradisi pengajian Ramadan yang telah dijalankan Mbah Tur semasa hidup.

Sedang di Tasywiquth Thullab Salafiyah, sebelum meninggal, (Yi Zyad) yang merupakan salah satu Kiai Sepuh di Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyah, masih sempat mengawal berdirinya dua lembaga baru di Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyah, yakni Pendidikan Anak Usia Dini dan juga Ma’had Aly Tasywiquth Thullab Salafiyah dengan Takhassus Ilmu Falak.

Kiai Choirozyad meningalkan seorang istri, yakni Hj. Churiyah dengan empat putra & putri, yaitu Chirzil Ala, Chazal Majda, Nalal Izza dan Afida Ilfa.

Masyarakat dari berbagai kalanganpun, mulai berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada salah satu Kiai Sepuh di Kabupaten Kudus tersebut. “Anggota keluarga juga sudah berkumpul semua. Sudah komplet”, kata Ustaz Abdul Wahab, salah satu warga yang saat ini tengah berada di rumah duka.

Selain masyarakat yang kini mulai berdatangan, ucapan belasungkawa dan doa dari masyarakat, khususnya para santri Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyah berdatangan seakan tak ada putusnya, khususnya melalui grup WhatsApp dan juga melalui berbagai media sosial.

“Bikhusnil khotimah, Kiai. Wahai Guru Kami. Kesejukan mu dan ketulusan setiap detik untuk murid – muridnya, sangat melekat dalam sanubari. Istiqomah dalam ibadah dan sujudmu menjadi tuntunan dan kesaksian kami setiap Jum’at di Menara. Selamat jalan Kiai Choirozyad Tadjussyarof. Amal ibadahmu Haqqul Yaqin mengantarkan ke surga bagimu. Aamiin Ya Robbal A’lamiin”, tulisan Gus Kholid Sanusi Yasin dalam salah satu grup alumni Tasywiquth Thullab Salafiyah.

Halim, salah satu alumni yang kini menetap di Jakarta, mengenang (Yi Zyad) – sapaan KH. Choirozyad – sebagai guru sekaligus orang tua yang selalu membimbing dan ngayomi. “Beliau merupakan guru yang sangat dekat dengan muridnya dan mengikuti perubahan dalam mencerdaskan anak didiknya”, ungkapnya.

Dalam pandanganya, (Yi Zyad) adalah sosok yang sangat konsisten dalam menjaga marwah agama, nusa dan bangsa. “Beliau seorang yang nasionalis dan religius”, kenang Halim menambahkan.

Ustaz Chirzil Ala, putra sulung KH. Choirozyad Turaichan Adjhuri, mengatakan, ayahandanya dirawat di Rumah Sakit Islam Kudus sekitar sembilan hari sebelum kapundut. “Sebelumnya, masih sempat ngaji Ramadanan di Langgar Dalem sekitar 10 hari”, katanya.

Sementara itu dalam upacara pemakaman nanti, akan bertindak sebagai Imam Shalat Jenazah KH. Ulinnuha Arwani, pembacaan Talqin oleh KH. Hasan Fauzi dan sambutan keluarga akan diwakili KH. Hamim.

 

(Eros/Halim)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY