Konsumsi Pangan Lokal Tidak Mengurangi Martabat Orang NTT

Konsumsi Pangan Lokal Tidak Mengurangi Martabat Orang NTT

67 views
0

KUPANG.POROSNUSANTARA – Badan Ketahanan Pangan NTT dari waktu ke waktu terus menggelorakan gerakan mengkonsumsi pangan lokal. Langkah yang dilakukan dengan turun ke setiap kegiatan, baik di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi mensosialisasikan gerakan cinta pangan lokal. Pangan lokal yang ada di masyarakat memiliki nilai gizi tinggi, jika diberikan sentuhan teknologi selain untuk kesehatan tubuh juga mendukung ekonomi keluarga.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan NTT, Drs Hadji Husen, kepada wartawan di ruang kerjanya, Jumat (18/5) menjelaskan, terkait dengan upaya menekan persoalan kekurangan pangan yang sering dikeluhkan selama ini, Pemerintah NTT melalui dinas ini mencari terobosan. Ada empat program unggulan yang menjadi skala prioritas perhatian dinas ini yang salah satunya menggelorakan gerakan mencintai pangan lokal. 

Dia mengakui bahwa melalui  bidang ketersediaan pangan di dinas ini, upaya menggelorakan pangan lokal terus digalakan. Walau setiap tahun kebutuhan pangan terutama beras mencukupi terutama di lumbung masyarakat, tetapi wargapun harus diberikan kesadaran untuk mengkonsumsi pangan lokal.
haji husen

Hadji Husen menambahkan saat ini kondisi beras yang ada di masyarakat dan gudang, beras mencapai 158.000 ton, selain yang ada di Dolog. Kondisi ini untuk tiga bulan kedepan. Sekitar 48.000 ton sebulan dikeluarkan  atau 10 kilogram  per orang, buat warga NTT makan beras. “Kita kan bukan daerah produksi beras. Apalagi kita di NTT normal 4 bulan basah dan 8 bulan kering. Ini mau tidak mau kita harus gelorakan gerakan makan pangan lokal. Makanya pak gubernur minta kita untuk  dengungkan gerakan pangan lokal,” katanya.

Masih jelas Hadji Husen, kadar protein, karbohidrat dan air dari pangan lokal yang ada di NTT sangat tinggi. Dia memberi contoh, makanan putak. Dari hasil penelitian menunjukan kalau  nilai protein karbohidrat dan air dari putak lebih tinggi dari beras. Ada juga ubi Iwi yang banyak di Pulau Sumba juga memiliki nilai gizi tinggi. 

Hadji Husen menambahkan bahwa pangan lokal jadi tren sekarang, baik unti-umbian, kacang, pisang, dll. Bila pangan lokal bisa dikelola dengan baik, maka selain punya manfaat buat tubuh juga membantu ekonomi keluarga. “Kita sosialisasi pangan lokal dengan gandeng PKK. Ada kegiatan kita sosialisasi buat ibu-ibu dengan berikan contoh. Tahun 2017 kita gandeng dokter ahli gizi, kita satukan pemahaman untuk memberikan penjelasan soal manfaat mengkonsumsi pangan lokal. Kita tidak bisa terlalu berharap pada beras semata,” ujarnya. 

Masih papar Hadji Husen, setiap kali mereka melakukan sosialisasi di masyarakat, ada respon sangat baik. Respon warga ini kemudian dikaji dan ditelaah secara baik bahwa kalau menggelorakan pangan lokal maka harus didukung dengan fasilitas. Artinya tidak hanya sekedar omong tetapi diberikan peralatan pendukung dan pemberian contoh cara mengolah pangan lokal yang baik untuk dikonsumsi.

“Kita berikan telaan lalu sampaikan pada pak gubernur untuk  pengadaan alat.  Jadi tidak asal omong. Warga minta alat lengkap. Kita ajak olah jadi makanan yang berguna. Kita manfaatkan momen sosialisasi di pameran pembangunan. Kita undang pimpinan OPD untuk konsumsi pangan lokal sehingga mereka bisa bantu teruskan sosialisasi kepada siapapun yang mereka ketemu,” tambah Hadji Husen.
ntt pangan lokal

Dikatakannya, pangan lokal itu makanan bermartabat. Pihaknya menggandeng berbagai kalangan baik itu sekolah (SMKN 3 Kupang) maupun kelompok usaha yang ada di NTT. Pihaknya mendorong kelompok kecil untuk lakukan usaha pangan lokal dan hasilnya akan beli. “Kita dorong kelompok usaha untuk terus berproduksi.  Kita ada siapkan toko di dinas  untuk beli hasil usaha pangan lokal warga itu. Ini untuk dukung PAD karena kita begitu beli lalu kita jual kembali ke luar daerah. Kita harus beli untuk hidupkan usaha masyarakat,” ujarnya.

Dirinya juga menyampaikan bahwa berkenaan dengan upaya memasyarakatkan gerakan mengkonsumsi pangan lokal, pihaknya pada September 2018 nanti berkaitan dengan hari pangan sedunia akan menghadirkan peserta dari 22 kabupaten/kota di Sumba Barat. Pada acara ini akan dilaksanakan pula pameran pangan lokal. Selain itu, selama inipun dilakukan kegiatan lomba pangan lokal mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten sampai ke provinsi.

“Saya ajak warga mari kita cintai pangan lokal dengan  kurangi konsumsi makanan dari terigu dan beras. Konsumsi pangan lokal itu aman. Lima tahun lalu dari IPB lakukan penelitian bahwa konsumsi pangan lokal lebih aman.  Kita selama ini mengeluh rawan pangan itu karena beras tidak ada. Lapar karena beras tdk ada. Padahal kita pangan lokal banyak. Makan pangan lokal juga bermartabat,” pesan Hadji.(Erni Amperawati).

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY