Plan Indonesia dan Uni Eropa Luncurkan Program Teknologi Inovasi Mata Kail

Plan Indonesia dan Uni Eropa Luncurkan Program Teknologi Inovasi Mata Kail

25 views
0
SHARE

KUPANG.POROSNUSANTARA – Plan Indonesia dan Uni Eropa memberikan dukungan kepada pemerintah provinsi (Pemprov) NTT dengan meluncurkan “Switch Asia II Project”atau program untuk mempromosikan suplai dan konsumsi ikan  secara berkelanjutan. Program yang diberi tajuk “mari kita kreatif dan arif agar ikan lestari atau Mata Kail ini lebih bergerak dalam sektor perikanan pengolahan ikan dengan membuka kesempatan kerja bagi kaum muda, khususnya perempuan.

Launching and Kick Off Workshop Switch Asia II Project, dilakukan oleh Asisten II bidang Perekonomian dan Pembangunan, Ir. Alexander Sena, mewakili Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, di aula Fernandes kantor Gubernur, Rabu (16/5/2018). Turut hadir  antara lain, Executive Director Plan Indonesia, Dini Widiastuti, Program Specialist Plan Jerman, Tobias Zehe dan Hans Farnhammers (Delegation Cooperation Uni Eropa).

Dalam keterangan pers Biro Humas Setda NTT dikatakan bahwa Asisten II, Alexander Sena , menyatakan program Switch Asia II sangat relevan dan dibutuhkan masyarakat NTT. Sehingga melalui workshop yang melibatkan unsur perempuan dan Instansi terkait dapat mendiskusikan berbagai hal. Juga bisa mensinergikan antara program internasional dengan program lainnya di Indonesia dan NTT khususnya.

“Kita harapkan kerjasama pemprov NTT dengan non-governmental organization (NGO) dapat memberikan manfaat yang jauh lebih besar lagi. Tentu kerjasama kemitraan ini lebih fokus pada peningkatan gizi masyarakat melalui teknologi inovasi pengolahan ikan.
Tak hanya itu, program yang didanai Uni Eropa tersebut, diperuntukan juga bagi pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah dalam proses pengolahan produk perikanan,” jelas Alex.

Alexander Sena, meminta Biro Kerjasama NTT dapat memfasilitasi kemitraan dengan lembaga-lembaga internasional dalam mendukung program pemprov NTT. Sena mengakui memang ada kemajuan dicapai NTT, seperti inflasi dapat ditekan, pertumbuhan ekonomi diatas rata-rata nasional dan kemiskinan yang berangsur menurun.

Executive Director Plan Indonesia, Dini Widiastuti, mengatakan Switch Asia II diluncurkan dengan nama program Mata Kail (program Mari Kita Kreatif dan Arif agar Ikan Lestari). Program ini akan berlangsung selama tiga tahun kedepan (2018 – 2021). Tujuannya, Pertama, meningkatkan peluang ekonomi anak muda, khususnya perempuan; Kedua, pengurangan dampak lingkungan dari pengolahan ikan dan Ketiga, mengurangi masalah kekurangan gizi anak balita dengan memberikan konsumsi ikan. Menurut Widiastuti, Uni Eropa telah memberikan dukungan dana sebesar 20 juta euro per tahun lewat berbagai program SDGs (Sustainable Development Goals) di Indonesia.
indo eropaa 2
Hingga saat ini Plan Indonesia telah menjangkau 21 kabupaten dan kota di Indonesia. Sedangkan penerima manfaat dari program Switch Asia II di provinsi NTT, kata Widiastuti, untuk kabupaten Lembata,  sebanyak 132.174 pemuda, Nagekeo, 139.577 dan Sikka, 313.509 pemuda. Penerim amanfaat dari program ini untuk masa waktu 36 bulan, yaitu Januari 2018 sampai Desember 2020). Ditargetkan 160 UMKM di NTT akan memperoleh teknologi inovasi pengolahan ikan.

Tobias Zehe (Program Specialist Plan German), menjelaskan proyek yang didanai Uni Eropa, fokus pada produksi dari konsumsi berkelanjutan pengolahan ikan di NTT. Plan German berterima kasih karena bisa memberikan dukungan pemberdayaan ekonomi kaum muda, terutama perempuan untuk meningkatkan partisipasi dalam sektor perikanan.

“Kami gembira dan percaya kerjasama kemitraan dengan pemerintah Indonesia adalah hal yang sangat penting. Kami harapkan kedepan kerjasama seperti ini dapat ditingkatkan lagi,” tutur Tobias Zehe.
Delegation Cooperation Uni Eropa, Hans Farnhammers, mengharapkan dengan dilaunching proyek ini dapat berjalan baik. Dia, senang karena proyek ini fokus pada sektor perikanan terutama dalam kegiatan promosi produksi dan konsumsi ikan secara berkelanjtan.(*/erni amperawati).

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY