Warga Kampung Bugis Usir Seorang Pendatang Baru yang Arogan.

Warga Kampung Bugis Usir Seorang Pendatang Baru yang Arogan.

11,589 views
0
SHARE

Karawang, Poros Nusantara – Dimana bumi dipijak disitulah langit dijunjung, pepatah ini cocok untuk menggambarkan sebuah kedamaian antar warga. Terlepas dari mana asalnya. Sepanjang berlaku sopan santun, bertata krama dan menghargai satu sama lain, pasti kedamaian akan dirasakan. Tetapi jika berlaku sealiknya, semisal arogansi dan sering memaksakan kehendaknya, terlebih dia sebagai pendatang, wajar jika kemudian hari mendapat tekanan dari masyarakat setempat.

Paling tidak kasus ini bisa dijadikan contoh agar hal-hal yang merugikan itu tidak menimpanya. Seperti yang terjadi belum lama ini wilayah Karawang. Konflik warga dengan seorang pendatang berakhir dengan pengusiran. Aksi tersebut dipimpin oleh warga yang ditokohkan Saripudin atau yang akrab disapa Japet oleh warga. Tepatnya kumpulan warga yang mencapai ratusan orang dan memendam emosi menggeruduk ke kediamana Marsudi.

Menurut Japet, Marsudi ini merupakan kepercayaan orang Jakarta yang memiliki aset berupa lahan dengan luas beberapa hektar, sering berlaku arogan dan menekan mereka yang mengerjakan atau menggarap lahan tersebut. Masih diceritakan ketua aksi ini, sebenarnya Marsudi ini orang ketiga yang tidak mendapat simpati dari waga setempat dengan kasus yang mirip-mirip, yakni menyepelekan warga yang ikut mengolah aset orang Jakarta di tempat tersebut.

Namun hanya Marsudi inilah yang bertempat tinggal di Kampung Bugis RT 05/01 Desa Tanah Baru, Kecamatan Pakis Jaya dan baru tinggal sekitar dua tahun, mengundang reaksi warga hingga meluap-luap. Sebab kata Japet, kedua orang kepercayaan pemilik aset dari Jakarta itu keburu pergi atau mungkin sudah mengerti gelagat dari warga yang memusuhinya, sehingga keburu pergi sebelum warga mengusirnya.
warga 3

“Kekecewaan warga ini sudah lama dipendamnya dan hari ini sudah tidak bisa dibendung lagi dengan ulahnya. Dia itu tidak bergaul dan bermasyarakat tetapi apa yang dilakukannya ditangkap oleh warga sangat meresahkan,” jelas Saripudin.

Saripudin menambahkan, Marsudi yang dikuasakan oleh H.Salip untuk mengelola aset-asetnya yang diduga hampir ratusan hektar sawah dan empang yang berlokasi di Kecamatan Pakis Jaya, Karawang.

Namun demikian pria berusia 40 tahun itu mengungkapkan pada media, bahwa aksi yang dinamakan Aksi 10.18 itu dilakukan dengan sepontanitas dari solideritas para warga yang sudah dikecewakan oleh Marsudi. “Penyebabnya ya rasa kekecewaan para warga yang selama dua tahun ditahannya dan baru kali ini amarah itu meledak dan sudah tidak bisa di bendung lagi pada Kamis pagi 10 Mei 2018 ini,” tandasnya pada media.

Masih dikatakan Japet kekecewaan warga yang sangat mendasar dan membuat amarah warga, diantaranya cara ia bergaul yang kurang bersahabat dan tutur bahasanya juga kurang baik. Dia sering mengucapkan kata-kata kasar dan tak senonoh. Ditambah lagi yang menjadi pemicu, masih jelas Japet, para penggarap sawah banyak yang dibuat kecewa olehnya. Akibat aksi itu imbuh Japet, warga ada yang tidak terkendali emosinya dengan melempari batu ke kios dan mencabut atribut-atribut, atau papan nama kios yang berada di pinggir kali irigasi depan halaman kios.
warga 4

Beruntung amarah itu tidak berlangsung lama dan dapat diredm aparat kepolisian dari Polsek Pakis Jaya yang dipimpin Kapolsek Inspektur Dua Sumaryadi. Sehingga tidak sampai menimbulkan hal-hal anarkis yang makin parah. Selain aparat kepolisian, dari jajaran aparat pemerintahan Kecamatan Pakis Jaya dan satpol PP.

Menanggapi hal tersebut, tetap ada warga yang tak suka dengan penyelesaian demikian. Menurut warga yang minta tak disebut namanya itu mengatakan prihatin. Kenapa mesti permasalahan ini harus dilakukan dengan langkah yang kurang mengenakan itu. “Sebenarnya bisa dilakukan dengan cara bermusyawarah dan dengan otak yang dingin, andai saja dari pihak Pak Marsudi tidak terlalu arogan dan tidak congkak, kagak bakalan terjadi seperti sekarang ini,” tegasnya. (M.Bohir )

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY